Oleh Aminuddin
Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
artikel ini sebelumnya dimuat di Harian Koran Madura, edisi 29 September 2015
http://www.koranmadura.com/2015/09/29/mengeritisi-tunjangan-wakil-rakyat/
Banyak pandangan skeptis dan kritis terkait
dengan perilaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam beberapa tahun
belakangan ini. Bukan hanya karana kinerjanya yang jauh dari produktifitas.
Namun permintaan anggota dewan yang terkesan ingin dimanja. Di tengah kritik
yang bertubi-tubi melanda anggota dewan, kini mereka kembali membuat kehebohan.
Yang paling mutakhir, anggota dewan mewacanakan kenaikan tunjangan bagi
anggotanya. Ada dua hal yang patut dicermati terkait wacana tersebut. Pertama, waktu permintaan kenaikan
tunjangan. Kedua, sikap anggota dewan
dalam menanggapi kritik publik.
Untuk point pertama, momentum permintaan
kenaikan tunjangan anggota dewan tersebut memang sangat paradoks dengan situasi
ekonomi yang ada sekarang ini. Di tengah ekonomi yang tidak menentu, seharusnya
wakil rakyat fokus bekerja dan membuat kebijakan politik pro ekonomi kerakyatan.
Bukan sebaliknya, mengikis uang rakyat dengan mewacanakan kenaikan tunjangan.
Begitupun dengan kepekaan anggota dewan terhadap kritik pedas dari masyarakat.
Setelah beberapa kali dikritik atas kinerjanya. Seharusnya mereka berkaca terhadap
prestasinya sebagai tugas pengawas, legislasi dan budgeting.
Politik minus
Keterwakilan
Inilah potret miris yang terjadi di parlemen
kita. Potret buram yang kontras dengan keadaan yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat saat ini. Misalnya, masyarakat Riau sedang berjuang melepaskan diri
dari jebakan asap. Sedangkan di Arab Saudi, jamaah haji kita berjuang keras
dari badai dan panas demi menjadi tamu Allah. Sebaliknya, di Senayan sana,
anggota DPR berjuang keras memuaskan libidonya dengan menaikkan tunjangannya.
Anggota DPR seolah-olah tidak pernah mendengar aspirasi rakyat. Melainkan fokus
atas kemauannya sendiri.
Terkait dengan hal itu, kita patut meresapi debat
dua tokoh filsuf terkemuka antara Plato dan Aristetoles terkait aspirasi rakyat.
Dalam pandangan Plato, wakil rakyat tidak perlu aspirasi rakyat karena mereka
sudah lebih paham. Menurutnya, pengetahuan wakil rakyat melampaui pengetahuan
rakyatnya sendiri sehingga tidak perlu
ada intervensi dari
rakyat.
Lain halnya dengan Aristoteles. Dalam pandangannya, aspirasi
rakyat itu penting. Kebijaksanaan (wisdom) rakyat lebih superior
ketimbang sekelompok kecil penguasa. Rakyat juga orang yang harus menerima
setiap keputusan dari pemerintah maka di sanalah mereka pasti tahu dan dapat
berpendapat sesuai keinginannya (Novianto, 2014). Mencermati debat kedua filsuf
legendaris tersebut, rasanya pandangan Plato lebih relevan ditunjukkan kepada
wakil rakyat sekarang. Sedangkan pendapat Aristoteles lah yang diinginkan oleh
rakyat, namun tidak pernah direalisasikan oleh wakil rakyat.
Nampaknya, jurang pemisah antara debat tersebut
semakin menjauhkan rakyat dengan wakilnya sehingga wakil rakyat bertindak
semaunya sendiri. Wakil rakyat seolah-olah konsen memperkaya diri sendiri dengan
membuat kebijakan yang justru jauh dari harapan rakyat. Sedangkan rakyat
semakin kolaps dan tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah perkembangan politik
tanah air yang penuh dengan kesenjangan. Ini persis seperti apa yang
dikhawatirkan oleh Richard Robison (dalam Rif’an 2012)
bahwa perkembangan politik di Indonesia
akan segera dipenuhi kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Wakil rakyat
menjadi kaya, sedangkan yang diwakili (rakyat) semakin miskin.
Surplus
Fasilitas
Maka dari itu, ada beberapa hal yang patut
menjadi perhatian dalam wacana tunjangan fantastis DPR ini. Pertama, tunjangan tersebut hanya
mengubah pendapatan anggota dewan. Sedangkan pendapatan rakyat tetap sama tidak
ada perubahan. Padahal, dengan situasi yang terjadi saat ini, perekonomian
rakyat seharusnya dipulihkan. Di balik itu, belum muncernya prestasi parlemen
kian mengukuhkan skeptis dan apatisme publik. Apalagi, rakyat sekarang ini
sedang dibayangi dilema politik ekonomi yang tidak kunjung reda. Pada akhirnya,
tunjangan fantastis dewan ini hanya menyelamatkan perekonomian dewan.
Kedua, mentalitas pejabat negara yang
meminta fasilitas lebih tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Hampir setiap
pergantian parlemen selalu disibukkan dengan tunjangan dan fasilitas. Wakil
rakyat hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri. Potret inilah yang sudah
membudaya di tengah-tengah wakil rakyat. Membudayakan kehidupan yang bermental
sederhana belum mampu ditampakkan oleh anggota dewan.
Ketiga, sosok anggota dewan tidak lagi
berorientasi kepada keterwakilan rakyat. Namun sebagai dewan yang mengejar-ngejar
fasilitas lebih. Sudah berapa fasilitas yang dianggarkan oleh rakyat untuk
pemerintah guna memperbaiki kinerjanya di parlemen. Namun, tunjangan dari rakyat
tersebut tidak mampu menaikkan prestasi wakil rakyat. Ini menjadi anomali atas
keterwakilan rakyat.
Maka dari itu, publik semakin sulit untuk
memberikan apresiasi kepada wakil rakyat. Defisit apresiasi dari rakyat tidak
pernah menjadi peringatan bagi wakil rakyat. Pada akhirnya, wakil rakyat hanya
surplus fasilitas dan minus prestasi. Jika demikian, jangan harap dalam beberapa
tahun ke depan ada wakil rakyat yang menghamba kepada rakyat. Yang ada, mereka hanya
fokus pada fasilitas sebagai prioritas utama. Miris!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar