Oleh: Aminuddin
aretikel ini telah dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat edisi 11 Maret 2014
MENJELANG bergulirnya perhelatan demokrasi elektoral
April mendatang, masih belum tampak gemerlap seremonial di mata pemilih. Budaya
politik partisipatif masyarakat terhadap perhelatan akbar ini terkesan kurang
mengusik hati para pemilih padahal ritual elektoral ini menyangkut masa depan
bangsa.
Ritual demokrasi elektoral yang akan diselenggarakan
pada 09 April 1014 akan diikuti oleh dua belas kontestan partai politik plus
tiga partai lokal Aceh akan bersaing untuk meraup suara publik. Pemilu kali ini
akan lebih menarik jika kita tidak melupakan pemilih pemula. Artinya, pemilu
tahun ini tidak bisa dilepaskan dari partisipasi mahasiswa sebagai pemilih
pemula. Di sinilah peran serta calon legislatif dan partai politik untuk giat
dan cerdas dalam merebut hati pemilih pemula.
Menjadi
menarik partisipasi kaum muda di perhelatan pesta demokrasi April mendatang
mengingat partisipasi pemilu sebelumnya cenderung menurun. Dalam pelaksanaan
pemilu 1999, partisipasi pemilih mencapai 93,33 persen, Pemilu 2004 turun
menjadi 84,9 persen, sedangkan Pemilu 2009 turun lagi menjadi 70,99 persen. Jika
dilihat data di atas, partisipasi pemilih terus menurun drastis dalam tiap
pelaksanaan pemilu. Bahkan, pada pemilu tahun 2014, partisipasi pemilih hanya
menyisakan 54 persen.
Namun yang
tidak kalah mengenaskannya adalah kaum muda yang masih
mengisi bilik kelompok Golput. Pada tahun 2009 angka golput berada di angka 39,1 persen, diprediksi
meningkat mencapai 60 persen. Besarnya angka golput
yang disandang kaum muda berpotensi menjadikan pemilu tahun 2014 kehilangan
daya tariknya. Hilangnya daya tarik pemilu disebabkan oleh mandulnya
kandadisasi partai politik dan hegemoni kaum tua. Kaum tua masih belum
merelakan cengkeraman terhadap kaum muda semakin mengerdilkan regenerasi kaum
muda.
Dalam kaitannya dengan mandulnya kandadisasi partai
politik, kaum muda kehilangan rohnya dalam menyemarakkan pesta demokrasi 09
April. Kejenuhan kaum muda dalam menampakkan dirinya di depan publik disinyalir
keengganan kaum tua memberi ruang kepada kaum muda dalam perpolitikan dewasa
ini. Hal itu juga tidak lepas dari pemuda sendiri yang enggan maju dan
berkembang. Di lain pihak, kaum muda yang berpendidikan tinggi dan kreatif
luput dari pemberitaan, sehingga kurang terekspos ke ruang publik.
Namun angin segar berhembus akhir-akhir ini ketika pemberitaan
mengenai partisipasi kaum muda cukup tinggi. Ternyata suara mahasiswa dan
pemula masih menjanjikan dalam pemilihan pemilu tahun depan. Pengikutsertaan
pemilih pemula dalam hajat politik tahun ini memang cukup mengagetkan.
Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemilih pemula pada tahun 2014
mendatang terdapat sekitar 22 juta pemilih dari 188 juta orang dalam daftar
pemilih tetap (DPT). Pemilih pemula didasarkan pada usia antara 17 sampai 23
tahun sekitar 30 juta pemilih. Jika di kalkulasi pemilih pemula atau pemilih
muda, dalam hal ini diasumsikan pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda mencapai
52 juta pemilih.
Setidaknya, ada beberapa hal yang harus dilakukan
oleh partai politik untuk mengambil hati
pemilih pemula. Pertama, memperbaiki citra
wakil rakyat yang saat ini dinilai buruk. Peran serta partai politik adalah
menyaring kader-kader antikorupsi. Kader-kader antikorupsilah yang akan ikut
andil dalam menaikkan citra partai politik.
Kedua,
peran media dalam mengampanyekan partai politik (iklan politik) maupun calon pemimpin
bangsa harus lebih dewasa. Artinya, Iklan politik juga harus bersikap realistis dan menghilangkan
nilai-nilai halusitatif. Iklan politik haruslah menjunjung tinggi kedewasaan
berdemokrasi. Iklan politik sebagai media untuk mendidik dan mencerdaskan publik.
Iklan politik yang tidak mendidik hanya akan membuahkan barisan
golput semakin melonjak tinggi di pemilu 2014.
Ketiga,
Partai politik sesegera mungkin untuk memprioritaskan program yang pro kaum
muda. Artinya, kaum muda harus diikutsertakan dalam kancah politik termasuk dalam
di pucuk pimpinan partai politik.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar