Rabu, 18 Maret 2015

Pemilu dan Partisipasi Pemuda

Oleh: Aminuddin
aretikel ini telah dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat edisi 11 Maret 2014
MENJELANG bergulirnya perhelatan demokrasi elektoral April mendatang, masih belum tampak gemerlap seremonial di mata pemilih. Budaya politik partisipatif masyarakat terhadap perhelatan akbar ini terkesan kurang mengusik hati para pemilih padahal ritual elektoral ini menyangkut masa depan bangsa.
Ritual demokrasi elektoral yang akan diselenggarakan pada 09 April 1014 akan diikuti oleh dua belas kontestan partai politik plus tiga partai lokal Aceh akan bersaing untuk meraup suara publik. Pemilu kali ini akan lebih menarik jika kita tidak melupakan pemilih pemula. Artinya, pemilu tahun ini tidak bisa dilepaskan dari partisipasi mahasiswa sebagai pemilih pemula. Di sinilah peran serta calon legislatif dan partai politik untuk giat dan cerdas dalam merebut hati pemilih pemula.

Menjadi menarik partisipasi kaum muda di perhelatan pesta demokrasi April mendatang mengingat partisipasi pemilu sebelumnya cenderung menurun. Dalam pelaksanaan pemilu 1999, partisipasi pemilih  mencapai 93,33 persen, Pemilu 2004 turun menjadi 84,9 persen, sedangkan Pemilu 2009 turun lagi menjadi 70,99 persen. Jika dilihat data di atas, partisipasi pemilih terus menurun drastis dalam tiap pelaksanaan pemilu. Bahkan, pada pemilu tahun 2014, partisipasi pemilih hanya menyisakan 54 persen.
Namun yang tidak kalah mengenaskannya adalah kaum muda yang masih mengisi bilik kelompok Golput. Pada tahun 2009 angka golput berada di angka 39,1 persen, diprediksi meningkat mencapai 60 persen. Besarnya angka golput yang disandang kaum muda berpotensi menjadikan pemilu tahun 2014 kehilangan daya tariknya. Hilangnya daya tarik pemilu disebabkan oleh mandulnya kandadisasi partai politik dan hegemoni kaum tua. Kaum tua masih belum merelakan cengkeraman terhadap kaum muda semakin mengerdilkan regenerasi kaum muda.
Dalam kaitannya dengan mandulnya kandadisasi partai politik, kaum muda kehilangan rohnya dalam menyemarakkan pesta demokrasi 09 April. Kejenuhan kaum muda dalam menampakkan dirinya di depan publik disinyalir keengganan kaum tua memberi ruang kepada kaum muda dalam perpolitikan dewasa ini. Hal itu juga tidak lepas dari pemuda sendiri yang enggan maju dan berkembang. Di lain pihak, kaum muda yang berpendidikan tinggi dan kreatif luput dari pemberitaan, sehingga kurang terekspos ke ruang publik.
Namun angin segar berhembus akhir-akhir ini ketika pemberitaan mengenai partisipasi kaum muda cukup tinggi. Ternyata suara mahasiswa dan pemula masih menjanjikan dalam pemilihan pemilu tahun depan. Pengikutsertaan pemilih pemula dalam hajat politik tahun ini memang cukup mengagetkan. Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemilih pemula pada tahun 2014 mendatang terdapat sekitar 22 juta pemilih dari 188 juta orang dalam daftar pemilih tetap (DPT). Pemilih pemula didasarkan pada usia antara 17 sampai 23 tahun sekitar 30 juta pemilih. Jika di kalkulasi pemilih pemula atau pemilih muda, dalam hal ini diasumsikan pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda mencapai 52 juta pemilih.
Setidaknya, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh partai politik untuk  mengambil hati pemilih pemula. Pertama, memperbaiki citra wakil rakyat yang saat ini dinilai buruk. Peran serta partai politik adalah menyaring kader-kader antikorupsi. Kader-kader antikorupsilah yang akan ikut andil dalam menaikkan citra partai politik.
Kedua, peran media dalam mengampanyekan partai politik (iklan politik) maupun calon pemimpin bangsa harus lebih dewasa. Artinya, Iklan politik juga harus bersikap realistis dan menghilangkan nilai-nilai halusitatif. Iklan politik haruslah menjunjung tinggi kedewasaan berdemokrasi. Iklan politik sebagai media untuk mendidik dan mencerdaskan publik. Iklan politik yang tidak mendidik hanya akan membuahkan barisan golput semakin melonjak tinggi di pemilu 2014.
Ketiga, Partai politik sesegera mungkin untuk memprioritaskan program yang pro kaum muda. Artinya, kaum muda harus diikutsertakan dalam kancah politik termasuk dalam di pucuk pimpinan partai politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar