Oleh Aminuddin
Kongres Partai Amanat
Nasional (PAN) baru saja selesai diselenggarakan beberapa waktu lalu di Bali.
Kongres tersebut menempatkan Zulkifli Hasan sebagai ketua Umum periode
2015-2020, mengalahkan pesaingnya sekaligus calon petahana Hatta Rajasa.
Zulkifli mengumpulkan 292 suara. Sedangkan Hatta Rajasa mengumpulkan 286 suara.
Zulkifli Hasan
memperoleh dukungan dari Sutrisno Bachir
yang juga mantan ketua Umum PAN periode 2005-2010. Namun banyak pengamat yang
menilai bahwa keberadaan Sutrinso tidak berpengaruh signifikan. Selain sudah
vakum dari struktur parpol berlambang matahari terbit tersebut, ia juga tidak
memiliki basis dukungan yang bercokol di struktural internal parpol semasa
dipimpin oleh Hatta. Alasan itulah mengapa keberadaan Sutrisno tidak
berpengaruh terhadap pergerakan suara sebelum detik-detik pemungutan suara.
Amien Rais effect
Kemenangan Zulkifli
Hasan kembali menegaskan diri sebagai calon dari representasi orang kuat yang
bernama Amien Rais. Sosok Amien Rais sebagai penguasa tunggal di internal PAN
menjadi tidak terelakkan. Dukungan Amien Rais terhadap Zulkifli memang bukan
kejutan. Selain alasan tradisi bahwa PAN harus dipimpin satu periode, tali
kasih antara kedua politisi kawakan di PAN tersebut sudah melekat. Pasalnya,
Zulkifli merupakan besan dari Amien Rais.
Eksistensi Amien Rais
tidak menjadi abu-abu dalam mendukung Zulkifli. Manuver politik Amien Rais semakin
kentara setelah ia menyindir Hatta Rajasa dalam pidato politiknya. Waktu itu, Amien
Rais menjelaskan kronologi pada peristiwa 30 September dimana waktu itu, ada
pertemuan Surya Paloh dengan ketua Umum PAN. Tentunya, ketua Umum PAN tersebut adalah Hatta.
Selama kongres di Bali,
Amien Rais masih menjadi titik equilibrium dalam menentukan kursi nomor satu
partai berlambang matahari terbit tersebut. Ibaratnya, amien masih menjadi penentu
dalam sistem demokrasi di internal. Heinrich Best dan John Higley (2010) menegaskan bahwa demokrasi elitis masih menjadi penguasa atas kelompok
kecil elit. Meskipun
demokrasi pada prinsipnya adalah pemerintahan oleh rakyat, namun kelangsungan
hidup demokrasi terletak di pundak para elit politik. Intinya, keder-kader militan yang tidak
memiliki kekuatan, tidak akan mampu menjembatani arah demokrasi.
Manuver politik Amin
Rais dalam mendukung memang bukan hanya bentuk partisipasi dan kewajiban karena
ketua perimbangan. Namun ada hal yang lebih urgen untuk dipertahankan.
Setidaknya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Pertama,
kemenangan Zulkifli Hasan, menjadi modal kuat bagi Amien Rais untuk mengontrol
kompas politik PAN. Amien Rais akan mudah mengendalikan arah politiknya. Ini
berbeda dengan Hatta Rajasa. Seandainya Amien Rais mendukung Hatta, ia tidak
serta merta dapat mengendalikan Hatta. Hal ini karena Hatta merupakan tokoh
yang mampu menjadi
magnet dan kader militan. Hatta tidak membebani beban elektoral partai. Dengan
kata lain, figur dan sosok Hatta bisa mengangkat pamor partai karena memiliki
magnet elektoral yang kuat agar bisa mengangkat elektoral. Setidaknya, hal
inilah yang membuat Hatta tidak tergantung kepada Amien Rais.
Kedua, dengan terpilihnya Zulkifli Hasan
menjadi ketua umum, maka Amien Rais lebih leluasa mengamankan Koalisi Merah
Putih (KMP) yang selama ini menjadi penyeimbang di pemerintahan Jokowi.
Sebaliknya, jika Hatta yang menjadi ketua, maka posisi Amien Rais di KMP berada
dalam bayang-bayang Hatta.
Minus Regenerasi
Sudah menjadi rahasia
umum di republik ini bahwasanya parpol masih galau jika ingin melepaskan diri
dari pengaruh orang kuat. Pengaruh orang kuat menjadi tidak terelakkan manakala
sebuah parpol menggelar Kongres, Muktamar, maupun pemilihan ketua umum lainnya.
Bahkan yang lebih miris, masih banyak parpol yang menaruh harapan kepada salah
satu orang saja untuk mendongkrak elektoral parpolnya. Orang parpol beralasan
bahwa, jika tidak dipegang tokoh kuat, takut ada perpecahan di internal parpol.
Karena alasan itulah,
banyak parpol yang tidak ingin menjadikan kongres sebagai awal perpecahan.
Lihat saja ketika Partai Gerindra menunjuk kembali Prabowo Subianto sebagai
ketua umum. Begitupun dengan partai penguasa saat ini, Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan yang memilih secara aklamasi Megawati Soekarno Puteri. Partai Hanura
juga menunjuk secara aklamasi Wiranto sebagai ketua Umum di Solo beberapa waktu
lalu.
Namun yang paling tragis
dialami oleh dua partai sarat pengalaman, yaitu Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) dan partai Golkar.
Kedua pepol tersebut mengalami guncangan
hebat tatkala terjadi perpecahan kepengurusan. PPP versi muktamar Surabaya menunjuk
Rohakhurmuzy sebagai ketua umum. Selang beberapa hari berikutnya, Muktamar
tandingan dilakukan di Jakarta dengan memilih Djan Faridz sebagai Ketua Umum. Setali
tiga uang, Golkar juga mengalami hal serupa. Setelah memilih Aburizal Bakrie secara
aklamasi sebagai ketua umum, Kongres tandingan pun dilakukan di Jakarta dengan
memilihi agung Laksono.
Sekali lagi, kongres
yang dilakukan oleh parpol belum lepas dari jeratan orang kuat. Begitupun
dengan PAN. Meskipun PAN terkesan dipilih secara demokratis, keberadaan Amien Rais
masih menjadi kunci kemenangan ketua umum. Bahkan ada kesan bahwa keder PAN
yang ingin mencalonkan diri, tidak absah jika tidak memperoleh restu dari Amien
Rais. Amien Rais ibarat matahari tunggal yang dapat menentukan arah PAN.
Akhirnya, hasil kongres
PAN di Bali menjadi pembuktian bagi Zulkifli untuk dapat berbicara banyak di
pemilu 2019 mendatang. Di pihak lain, penyerahan estafet kekuasaan juga harus
dibuktikan bahwa PAN tidak tergantung kepada elit politik di internal parpolnya
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar