Oleh Aminuddin
Baru-baru ini, partai
hari Nurani Rakyat (Hanura) secara aklamasi menunjuk kembali Wiranto sebagai
ketua umum partai di Solo. Ia dipilih secara aklamasi karena tidak ada saingan.
Aklamasi menjadi sebuah fenomena yang tidak dapat terhindarkan. Proses aklamasi
menjadi sebuah keniscayaan bagi parpol ketika kebuntuan kaderisasi dan
regenerasi. Tak pelak, proses aklamasi sering kali menjadi embrio terbelahnya
parpol. Kondisi kekinian politik di Indonesia adalah terpecahnya parpol sarat
pengalaman seperti partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Persatuan
Pembangunan (PPP).
Hasrat memperebutkan libido
kuasa menjadi sebuah keniscayaan bagi kedua partai legendaris tersebut. Partai
Golkar yang notabene partai sarat pengalaman, tak kuasa ketika dihadapkan pada
kepentingan individu. Pucuknya, partai tersebut terbelah menjadi dua
kepengurusan. Aburizal Bakrie (Ical) menjadi ketua Umum setelah menghelat Munas
Di bali secara aklamasi. Sedangkan Agung Laksono menjadi ketua umum versi munas
Ancol.
Begitupun dengan PPP
yang melahirkan dua ketua versi masing-masing. Rumahurmuzy yang menggelar
muktamar di Surabaya di daulat menjadi ketua umum secara aklamasi. Sedangkan
Djan Faridz didaulat menjadi ketua PPP versi Jakarta. Mereka beradu kuat dengan
argumentasi masing-masing bahwa muktamar yang mereka laksanakan paling sah di mata
publik.
Embrio Perpecahan
Dalam historikal politik
tanah air. Perpecahan partai politik bukan merupakan hal yang tabu. Ketika masa
orde baru, banyak parpol yang mengalami perpecahan. Sebut saja PPP yang yang menetaskan embrio PBR, PBB, dan Masyumi. PDI yang menghasilkan PNI
Massa Marhaen, PNI Front Marhaen, PNBK maupun PDI Perjuangan. Fenomena semacam itu sudah bukan merupakan barang baru. Bedanya,
perpecahan parpol kala itu disebabkan perbedaan ideologi dari individu. Namun sekarang,
yang menganga hanyalah kepentingan tertentu demi melanggengkan hasrat kuasanya.
Di posisi inilah, ideologi parpol ditelantarkan. Akibatnya, partai hanya
menjadi komoditas dagangan politik. Siapa yang memiliki modal paling tinggi,
dialah yang akan menjadi pemegang kendali
parpol tersebut.
Partai Golkar pun juga
menjadi pelaku sejarah perpecahan. Tercatat, Munas
Golkar Pada 1998, terjadi persaingan antara Akbar Tandjung dan Edi
Sudrajad. Pada saat itu, Akbar mengalahkan Edi. Pasca kekalahan tersebut, pada
15 Januari 1999 Edi mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP). Pada tahun
2002, kader Golkar R Hartono mendirikan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
Pasca pemilu 2004, Wiranto mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).
Begitupun dengan Prabowo
Subianto yang mendirikan partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang
sekaligus menjadi kendaraan politiknya di pemilu 2004, 2009, dan 2014 meski
akhirnya kalah di pilpres. Sedangkan pada tahun 2009, Ical bersaing dengan
Surya Paloh. Ical mengalahkan Paloh. Setali tiga uang, Paloh mendirikan
organisasi Kemasyarakatan Nasional Demokrat (Nasdem) yang kemudian
bermetamorfosis menjadi partai Nasdem (Kompas, 01/12/14).
Kelapukan Ideologi
Egoisme demi egoisme
yang ditunjukkan oleh elit parpol menginisisasi bahwa ideologi partai politik hanya
sebuah bumbu penyedap untuk mengelabui publik. Elit politik telah mengambil
alih kekuasaan politik di internal parpol sehingga kesakralan ideologi
terabaikan. Fenomena semacam ini dapat dipahami bahwa kekuatan ekonomi-politik
di tubuh partai telah menyeret dan menenggelamkan ideologi parpol.
Kekuatan ekonomi telah
menggeser nilai-nilai parpol ke arah bisnis. Parpol tidak lagi dikelola
sebagaimana mestinya. Artinya, parpol dikelola dalam azaz untung dan rugi.
Dimana ada keuntungan, disitulah proses politik berjalan. Sebaliknya, jika
tidak memperoleh keuntungan finansial, otomatis disingkirkan. Mengacu pada pandangan
Herbert Alexander (2003), uang telah memegang peranan terpenting dalam kancah
politik, sebab sifat konvertabilitas uang yang mudah untuk dipertukarkan demi
kepentingan apapun termasuk dalam demokrasi politik elektoral.
Fenomena semacam ini
menggiring elit parpol untuk melakukan pertempuran dalam dua kubu. Pertama,
elit kaum tua melawan kaum muda. Kedua, orang kuat (kaya) melawan kaum ideologis. Pertarungan tersebut
telah terjadi di dua parpol yang saat ini sedang terbelah. Kader yang
menyuarakan regenerasi dapat dikategorikan sebagai kaum muda. Bisa saja, kaum
muda ini masuk dalam kategori kaum ideologis, bisa juga tidak. Sedangkan kaum
tua datang dari gerbong orang kaya.
Ketika kedua kubu ini
berperang, maka ideologi parpol semakin tergerus. Yang ada hanyalah kepentingan
pragmatis politik semakin menguat. Akibatnya, parpol kehilangan daya tawar dan
wibawanya di mata masyarakat. Begitupun dengan kemampuan untuk menjadi partai
yang demokratis. Imbasnya, roh parpol sebagai organisasi sosial politik menjadi
utopia belaka.
Epilog
Untuk mengembalikan lagi
benang kusut ideologi parpol, tidak ada cara lain bagi elit politik untuk mempertimbangkan
beberapa hal berikut. Pertama, parpol harus
keluar dari cengkeraman politik kaum tua. Selama ini, estafet
kepemimpinan parpol
masih saja di dominasi kaum tua. Keengganan kaum tua untuk
menyerahkan kepemimpinan kepada kaum muda sudah seolah menjadi struktur, bukan
lagi kultur, sehingga proses regenerasi menjadi mandek. Kedua, parpol memulai memikirkan kemandirian ekonomi.
Dengan kata lain, parpol berhenti
menghamba kepada elit yang minus gagasan dan hanya mengandalkan kekuatan uang. Lebih dari
itu, partai tidak lagi didesain sebagai komoditas untuk menghasilkan
pundi-pundi uang.
Ketiga, mencari figur yang mampu menjadi magnet dan kader militan. Figur tersebut tidak membebani beban
elektoral partai. Dengan kata lain, figur dan sosok yang memimpin parpol bisa
mengangkat pamor partai dan memiliki magnet elektoral yang kuat agar bisa
mengangkat elektoral.
Kita memahami bahwasanya
ideologi parpol tidak boleh diabaikan. Terlebih lagi, frame parpol sudah
menjadi bagian yang harus dijaga dan dirawat. Jika ideologi parpol sudah
terabaikan. Bukan tidak mungkin parpol hanya menjadi sanggahan kaum elit untuk
melanggengkan kekuasaannya. Pada akhirnya, kader-kader potensial terkubur habis
bersamaan dengan ideologi tersebut. Untuk itu, tidak ada cara lain bagi elit
parpol untuk mewujudkan aklamasi yang meritokrasi jika memang aklamasi menjadi
jalan terakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar