Jumat, 13 Maret 2015

Menyimak Politik Teatrikal

Oleh: Aminuddin
Hingar-bingar politik tanah air belakangan ini sudah hampir sampai pada titik didik. Gegah gempita panggung politik selalu menampakkan desain libido kekuasaan. Lantunan irama diselingi suara yang berembel-embel membela orang kecil, menegakkan hukum, seolah-olah menyesaki bingkai republik ini. Para politisi, pakar hukum, wakil rakyat, dan aktivis lantang berteriak anti korupsi meski kenyataanya tersandra oleh lingkaran politik praktis.
Mantra politik dan irama pembelaan hak-hak rakyat kecil lantang didengungkan oleh para wakil rakyat meskipun kemunafikan-kemunafikan muncul ke permukaan. Sebagian besar para dari mereka lihai, piawai dan sangat menjiwai dalam perannya di panggung megah kursi rakyat.
Begitulah terkadang teater politik tanah air kekinian yang tampak ke permukaan publik. Para politisi, penegak hukum yang picik pintar memerankan teater di panggung politik tanah air. Politik tak ubanya seperti aktor (artis). Artis dan politisi sukar untuk dikotomikan. Politik adalah pemain sinetron, pesinetron juga bisa menjadi politisi.
Dalam pandangan Hajriyanto Y Thohari artis dan politisi sama-sama tidak mau turun secara sukarela. Hal ini jelas bahwa para politisi tidak akan turun secara suka-rela untuk melepaskan jabatannya di lembaga pemerintahan, meskipun faktanya, kinerja mereka tidak mewakili rakyat secara keselurhan. Itu sama halnya dengan artis, artis tidak serta merta berhenti dalam dunia ke artisan meskipun sudah banyak artis-artis pendatang baru yang bermunculan.
Abdul Mu’ti (2009), menegaskan bahwa artis dan politisi sama-sama suka lihai sandiwara. Keduanya sama-sama menjadikan peran sebagai ”profesi” mencari nafkah kehidupan. Tidak sedikit politisi yang mencari nafkah, begitupun dengan artis. Ada yang berperan untuk sekedar menjalankan profesi, ada juga yang memang mencari nafkah.
Sedangkan Menurut Akbar Tandjung, dalam dunia politik, seorang politisi bisa mati berulang kali. Keberadaannya, seorang politisihidupa lagi dan bangkit dari keterpurukan. Misalkan politisi pindah Parpol (kutu loncat) untuk kembali bersaing di panggung politik. Begitu pula dengan artis. Artis bisa mati berulang kali pada saat memerankan di layar kaca. Dalam posisi inilah lahir pemimpin tanpa gagasana karena prosesnya serba instan.
Hampir tidak ada para pejuang politik yang benar-benar mengasuransikan jiwanya untuk publik. Ongkos politik yang mereka keluarkan harus dikembalikan setelah duduk di kursi terhormat. Ini berbeda dengan para pejuang masa lalu. Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammd Yamin, mereka ada para pejuang yang hanya tunduk kepada kepentingan bangsa. Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya adalah tipikal politikus pejuang. Tradisi yang mereka tempuh adalah tradisi proses. Proses itu berupa rangkaian panjang ujian, baik secara intelektual (ideologis), mental, sosial, politik, ekonomi, maupun kultural (Tranggono, 2014).
Ongkos politik mereka adalah perjuangan. Mereka hanya mengharap kesejahteraan rakyat. Tidak jarang dari mereka mengorbankan nyawanya untuk kemaslahatan bangsa. Disinilah belum ada politik pejuang yang mampu menerjemahkan. Para politisi hanya menjadi tokoh teater dalam megahnya panggung Senayan.
Dalam politik yang sudah menjurus ke arah sarkasme, diutuhkan politikus pejuang ala Bung Karno, bung Hatta, Syahrir, dan tokoh-tokoh pejuang lainnya untuk menghentikan sandiwara politik belakangan ini. Caranya adalah kepekaan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan dan kebajikan hidup bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar