Oleh: Aminuddin
Hingar-bingar politik tanah air belakangan ini sudah hampir sampai pada titik didik. Gegah gempita panggung politik selalu menampakkan desain libido kekuasaan. Lantunan irama diselingi suara
yang berembel-embel membela orang kecil, menegakkan hukum, seolah-olah menyesaki bingkai republik ini. Para politisi, pakar hukum, wakil rakyat, dan aktivis lantang berteriak anti korupsi meski
kenyataanya tersandra oleh lingkaran politik
praktis.
Mantra
politik dan irama pembelaan hak-hak rakyat kecil lantang didengungkan oleh para
wakil rakyat meskipun kemunafikan-kemunafikan muncul ke permukaan. Sebagian besar para dari mereka lihai, piawai dan sangat menjiwai dalam perannya di panggung megah kursi rakyat.
Begitulah
terkadang teater politik tanah air kekinian yang tampak ke permukaan publik. Para
politisi, penegak hukum yang picik pintar memerankan teater di panggung politik
tanah air. Politik tak ubanya seperti aktor (artis). Artis dan politisi sukar
untuk dikotomikan. Politik adalah pemain sinetron, pesinetron juga bisa menjadi
politisi.
Dalam
pandangan Hajriyanto Y
Thohari artis dan
politisi sama-sama tidak mau turun secara sukarela. Hal ini jelas bahwa para
politisi tidak akan turun secara suka-rela untuk melepaskan jabatannya di
lembaga pemerintahan, meskipun faktanya, kinerja mereka tidak mewakili rakyat
secara keselurhan. Itu sama halnya dengan artis, artis tidak serta merta
berhenti dalam dunia ke artisan meskipun sudah banyak artis-artis pendatang
baru yang bermunculan.
Abdul Mu’ti (2009), menegaskan bahwa artis dan politisi sama-sama suka lihai sandiwara. Keduanya sama-sama menjadikan peran sebagai ”profesi” mencari
nafkah kehidupan. Tidak sedikit
politisi yang mencari nafkah, begitupun dengan artis. Ada yang berperan untuk sekedar menjalankan
profesi, ada juga yang memang mencari nafkah.
Sedangkan Menurut Akbar Tandjung, dalam dunia politik,
seorang politisi bisa mati berulang kali. Keberadaannya, seorang politisihidupa
lagi dan bangkit dari keterpurukan. Misalkan politisi pindah Parpol (kutu loncat) untuk
kembali bersaing di panggung politik. Begitu pula dengan artis. Artis bisa mati
berulang kali pada saat memerankan di layar kaca. Dalam posisi inilah lahir pemimpin tanpa gagasana karena prosesnya
serba instan.
Hampir tidak ada para pejuang
politik yang benar-benar mengasuransikan jiwanya untuk publik. Ongkos politik
yang mereka keluarkan harus dikembalikan setelah duduk di kursi terhormat. Ini berbeda
dengan para pejuang masa lalu. Soekarno, Mohammad Hatta, Muhammd Yamin, mereka
ada para pejuang yang hanya tunduk kepada kepentingan bangsa. Sukarno, Hatta,
Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya adalah tipikal politikus pejuang. Tradisi yang
mereka tempuh adalah tradisi proses. Proses itu berupa rangkaian panjang ujian,
baik secara intelektual (ideologis), mental, sosial, politik, ekonomi, maupun
kultural (Tranggono, 2014).
Ongkos politik mereka adalah
perjuangan. Mereka hanya mengharap kesejahteraan rakyat. Tidak jarang dari
mereka mengorbankan nyawanya untuk kemaslahatan bangsa. Disinilah belum ada
politik pejuang yang mampu menerjemahkan. Para politisi hanya menjadi tokoh
teater dalam megahnya panggung Senayan.
Dalam politik yang sudah menjurus ke
arah sarkasme, diutuhkan politikus pejuang ala Bung Karno, bung Hatta, Syahrir,
dan tokoh-tokoh pejuang lainnya untuk menghentikan sandiwara politik belakangan
ini. Caranya adalah kepekaan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan dan
kebajikan hidup bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar