Jumat, 13 Maret 2015

Mewaspadai Janji Politik ‘Oplosan’

Oleh: Aminuddin
artikel ini sebelumnya telah dimuat di Harian Jawa Pos edisi 14 Februari 2014
Oplosan merupakan salah-satu yang sedang populer saat ini. Lagu tersebut dipopulerkan oleh Eny Sagita. Bahkan setelah dibawakan oleh Soimah lewat acara televisi swasta nasional, lagu ini kian akrab di telinga masyarakat. Sampai saat ini, lagu ini sangat dikenal oleh masyarakat hampir semua usia.

Siaran televisi yang menayangkan lagu oplosan ini memang semakin tidak terkendali. Sama halnya dengan para petualang politisi yang kian gencar memamerkan dirinya dalam berkampanye, baik di media, maupun melalui alat peraga kampanye. Tidak mengherankan jika kiprah politisi di media cetak maupun elektronik semakin tidak terbendung seperti lagu oplosan.
Jika ditelaah secara seksama, lagu oplosan mempunyai pesan moral yang sangat dalam. Dalam pesan itu diingatkan bahwa kita jangan minum minuman keras. Di situ juga diingatkan bahwa manusia jangan selalu menghambur-hamburkan uang. Setidaknya, lagu oplosan itu menyimpan pesan yang cukup mendalam jika kita menilai secara positif.
Namun jika dikaji dari nilai negatifnya, lagu ‘oplosan’ kini tengah diganderumi oleh semua masyarakat semua usia. Artinya, masyarakat yang belum layak mendengarkan lagu tersebut dipaksa mengkonsumsinya. Sama halnya seperti minuman oplosan. Apapun jenis merk-nya, minuman oplosan sangat membahayakan konsumennya. Oplosan adalah oplosan, bagaimanapun juga, ini sangat membahayakan bagai kita semua. Namun, meskipun sangat berbahaya, oplosan masih saja ada yang mengkonsumsinya.
Itulah kiranya kita dapat mengaitkan bagaimana politisi mengambil kesempatan dalam mendulang popularitas setinggi-tingginya, mereka mengumbar-ngumbar janji politik kosong. Dalam hal ini dapat dikatakan janji politik oplosan. Para politisi berbondong-bondong untuk mencari popularitas dengan menebar janji sebagai pemanis. Bahkan politisi mencari kesempatan dengan beberapa cara. Pertama, mereka berkorban untuk turun langsung ke bawah (blusukan). Artinya, para petualang politisi tidak segan-segan berbaur dengan masyarakat agar dikenal dan akrab dengan masyarakat. Padahal, mereka belum tentu blusukan lagi setelah menjadi wakil rakyat.
 Dalam konteks ini, banyak para politisi yang tiba-tiba blusukan di masa tahun politik, padahal, mereka belum pernah blusukan sebelumnya. Ini dapat ditafsirkan sebagai politik blusukan. Dalam hal ini, politisi tidak dikategorikan sebagai kepemimpinan yang memang mempunyai gaya blusukan. Namun lebih mementingkan keinginannya untuk diketahui atau populer di masyarakat.
Kedua, adalah melalui iklan politik di media. Langkah instan seperti ini jarang diminati oleh para politisi mengingat biayanya sangat tinggi (high cost). Rata-rata, para politisi yang menggunakan iklan politik di media adalah Calon Presiden (Capres), dan partai politik. Sedangkan Para politisi yang akan bertarung untuk mewakili daerahnya masing-masing cenderung tidak meminatinya. Mereka cenderung menggunakan iklan politik melalui baleho. Ini dapat kita lihat di jalan-jalan, bagaimana membeludaknya alat peraga kampanye di ruang publik.
Cerdas Memilih
Namun pemilih sekarang semakin cerdas. Pemilih sudah tidak lagi tertarik dengan janji-janji kosong para politisi. Para pemilih lebih tertarik dengan program kerja nyata yang ditawarkan. Ini sejalan dengan  Firmanzah dalam bukunya Marketing Politik (2008) mengungkapkan, pemilih tertarik dulu dengan program kerja yang ditawarkan baru kemudian mencoba memahami nilai-nilai dan paham yang melatarbelakangi pembuatan sebuah kebijakan.
Mestinya, ada beberapa hal yang harus kita cermati dalam memilih pemimpin masa depan. Pertama, mencari tahu rekam jejak politisi yang akan kita pilih. Perjalan karir politik sangat penting mengingat mereka akan mewakili kita dalam lima tahun ke depan. Dari situ kita dapat menilai apakah mereka benar-benar bisa mewakili kita, dan pantas dipilih.
Kedua, mempelajari visi dan misinya. Biasanya, setiap politisi mempunyai visi dan misi yang berbeda. Secara logika, kita tidak mungkin menyerahkan suara kita tanpa mengetahui visi dan misinya. Salah memilih berarti membenarkan proses konsolidasi demokrasi disakiti oleh personalitas kotor. Dengan demikian, kita harus mempelajari visi dan misi calon wakil rakyat, apakah sejalan dengan kebutuhan bangsa ini.
Sudah saatnya kita tidak tertipu dengan janji-janji politik ‘oplosan’. Apapun visi dan misinya, janji oplosan tetap saja membahayakan bagi bangsa ini. Sama seperti minuman oplosan. Sekali lagi, kita tidak boleh tertipu dengan janji-janji oplosan para politisi. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar