Oleh: Aminuddin
artikel ini sebelumnya telah dimuat di Harian Jawa Pos edisi 14 Februari 2014
Oplosan merupakan salah-satu yang sedang populer saat
ini. Lagu tersebut dipopulerkan oleh Eny Sagita. Bahkan setelah dibawakan oleh
Soimah lewat acara televisi swasta nasional, lagu ini kian akrab di telinga
masyarakat. Sampai saat ini, lagu ini sangat dikenal oleh masyarakat hampir semua
usia.
Siaran televisi yang menayangkan
lagu oplosan ini memang semakin tidak terkendali. Sama halnya dengan para
petualang politisi yang kian gencar memamerkan dirinya dalam berkampanye, baik
di media, maupun melalui alat peraga kampanye. Tidak mengherankan jika kiprah
politisi di media cetak maupun elektronik semakin tidak terbendung seperti lagu
oplosan.
Jika ditelaah secara seksama, lagu oplosan
mempunyai pesan moral yang sangat dalam. Dalam pesan itu diingatkan bahwa kita
jangan minum minuman keras. Di situ juga diingatkan bahwa manusia jangan selalu
menghambur-hamburkan uang. Setidaknya, lagu oplosan itu menyimpan pesan
yang cukup mendalam jika kita menilai secara positif.
Namun jika dikaji dari nilai
negatifnya, lagu ‘oplosan’ kini tengah diganderumi oleh semua masyarakat
semua usia. Artinya, masyarakat yang belum layak mendengarkan lagu tersebut dipaksa
mengkonsumsinya. Sama halnya seperti minuman oplosan. Apapun jenis merk-nya,
minuman oplosan sangat membahayakan konsumennya. Oplosan adalah oplosan,
bagaimanapun juga, ini sangat membahayakan bagai kita semua. Namun, meskipun
sangat berbahaya, oplosan masih saja ada yang mengkonsumsinya.
Itulah kiranya kita dapat mengaitkan
bagaimana politisi mengambil kesempatan dalam mendulang popularitas
setinggi-tingginya, mereka mengumbar-ngumbar janji politik kosong. Dalam hal
ini dapat dikatakan janji politik oplosan. Para politisi
berbondong-bondong untuk mencari popularitas dengan menebar janji sebagai
pemanis. Bahkan politisi mencari kesempatan dengan beberapa cara. Pertama,
mereka berkorban untuk turun langsung ke bawah (blusukan). Artinya, para
petualang politisi tidak segan-segan berbaur dengan masyarakat agar dikenal dan
akrab dengan masyarakat. Padahal, mereka belum tentu blusukan lagi setelah
menjadi wakil rakyat.
Dalam konteks ini, banyak para politisi yang
tiba-tiba blusukan di masa tahun politik, padahal, mereka belum pernah blusukan
sebelumnya. Ini dapat ditafsirkan sebagai politik blusukan. Dalam hal
ini, politisi tidak dikategorikan sebagai kepemimpinan yang memang mempunyai
gaya blusukan. Namun lebih mementingkan keinginannya untuk diketahui
atau populer di masyarakat.
Kedua, adalah melalui iklan politik di media.
Langkah instan seperti ini jarang diminati oleh para politisi mengingat
biayanya sangat tinggi (high cost). Rata-rata, para politisi yang
menggunakan iklan politik di media adalah Calon Presiden (Capres), dan partai
politik. Sedangkan Para politisi yang akan bertarung untuk mewakili daerahnya
masing-masing cenderung tidak meminatinya. Mereka cenderung menggunakan iklan
politik melalui baleho. Ini dapat kita lihat di jalan-jalan, bagaimana membeludaknya
alat peraga kampanye di ruang publik.
Cerdas Memilih
Namun pemilih sekarang semakin
cerdas. Pemilih sudah tidak lagi tertarik dengan janji-janji kosong para
politisi. Para pemilih lebih tertarik dengan program kerja nyata yang
ditawarkan. Ini sejalan dengan Firmanzah dalam bukunya Marketing
Politik (2008) mengungkapkan, pemilih
tertarik dulu dengan program kerja yang ditawarkan baru kemudian mencoba
memahami nilai-nilai dan paham yang melatarbelakangi pembuatan sebuah
kebijakan.
Mestinya, ada beberapa hal yang harus kita cermati dalam memilih
pemimpin masa depan. Pertama, mencari tahu rekam jejak politisi yang
akan kita pilih. Perjalan karir politik sangat penting mengingat mereka akan
mewakili kita dalam lima tahun ke depan. Dari situ kita dapat menilai apakah
mereka benar-benar bisa mewakili kita, dan pantas dipilih.
Kedua, mempelajari visi dan misinya.
Biasanya, setiap politisi mempunyai visi dan misi yang berbeda. Secara logika,
kita tidak mungkin menyerahkan suara kita tanpa mengetahui visi dan misinya. Salah memilih
berarti membenarkan proses konsolidasi demokrasi disakiti oleh personalitas
kotor. Dengan demikian, kita harus mempelajari visi dan misi calon wakil
rakyat, apakah sejalan dengan kebutuhan bangsa ini.
Sudah saatnya kita tidak tertipu dengan janji-janji politik
‘oplosan’. Apapun visi dan misinya, janji oplosan
tetap saja membahayakan bagi bangsa ini. Sama seperti minuman oplosan. Sekali
lagi, kita tidak boleh tertipu dengan janji-janji oplosan para politisi.
Semoga!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar