Oleh
Aminuddin
Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
artikel ini sebelumnya telah dimuat di Harian Sinar Harapan edisi 12 Mei 2015
http://sinarharapan.co/news/read/150512099/memeritokrasi-aklamasi-parpol
http://sinarharapan.co/news/read/150512099/memeritokrasi-aklamasi-parpol
Salah satu problem terbesar partai politik (parpol) di tanah air adalah
mendeknya sirkulasi regenerasi. Parpol masih dihiasi oleh wajah lama di struktural
parpol. Yang paling kentara adalah proses pemilihan ketua umum parpol yang acap
kali dilaksanakan secara aklamasi. Fenomena aklamasi sudah tidak laagi
bersemaam di lingkaran partai veteran seperti Golkar, dan PDIP. namunsudah
menjalar ke partai-partai yang notabene masih seumuran jagung dala perpolitikan
Indonesia..png)
.png)
Fenomena inilah nampaknya akan terus dilajutkan oleh partai Demokrat
dalam Kongres di Surabaya pada 11-13 Mei. Kuatya suara kader yang dialamatkan
kepada Susilo Bambang Yudhoyono mengndikasikan bahwa aklamasi tidak dapat
dihindarkan. Meskipun ada desas-desus Marzuki Alie akan mencalonkan diri
sebagai calon ketua umum, nampaknya harus dikubur dalam-dalam karena SBY
sendiri masih menginginkan kursi nomor satu di internal parpol berlambag
Bintang Mercy tersebut.
Pada dasarnya, fenemena aklamasi tidak hanya megemuka di Kongres
demokrat. Sebelumnya, Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam kongres di Bali beberapa waktu lalu juga
memilih ketua umum secara aklamasi. Hampir tidak ada rintangan berarti dalam kongres
di Bali karena sudah dientukan sebelumnya siapa yang akan dipilih kembali. Ini
sekaligus menegaskan bahwa anak biologis dari mantan Presiden Soekarno tersebut
masih belum terbendung.
Padahal, jika kita mengamati Sumber Daya Manusia yang ada di
PDIP, banyak sekali kader-kader muda yang siap mampimpin partai berlambang Banteng
moncong putih tersebut. Sebut saja Joko Widodo, Puan Maharani, Tjahyo Kumolo, Ganjar
Pranowo, Pramono Anung, Hasto Kristiyanto, Maruarar Sirait, dan Prananda
Prabowo. Mereka adalah kader-kader muda potensial yang menjadi salah satu kader
terbaik saat ini.
Bahkan, kader seperti Joko Widodo menjadi salahs satu kader
yang bisa memimpin parpol. Apabila merujuk kepada hasil survie Poltracking,
Joko Widodo layak menjadi ketua umum menggantikan Megawati. Namun, tetap saja pemilik
sah saham parpol tetap berada di tangan Megawati sehingga ia terpilih kembali
secara aklamasi menajdi ketua umum.
Aklamasi yang Meritokrasi
Dalam sisitem pemilihan terbuka, aklamasi tidak diharamkan. Aklamasi juga
merupakan bentuk demokrasi. Di dunia islam, aklamasi menjadi sebuah jalan
keluar untuk menentukan tapuk pimpinan. Kita dapat diamati bagaimana Abu Bakar
As-Shiddiq dipilih secara aklamasi menggantikan Nabi muhammad SAW ketika beliau
wafat. Bedanya, pemilihan aklamasi pada saat itu lebih kepada kemampuan yang
meritokrasi.
Pemilihan secara demokratis juga tidak akan menjamin bersih dari praktik
kotor sepeerti suap menyuap, dan membeli suara. Ini ditenggarai karena proses pemilihan
demokrasi mempertemukan dia sampai tiga kandidat. Sehingga, Pemilihan ketua
umum sering memainkan politik uang untuk memperoleh suara.
Kita dapat berkaca bagaimana pemilihan ketua Umum partai Demokrat beberpa
tahun lalu. Tertangkapnya Anas Urbaningrum sebagai ketua Umum partai demokrat
oleh KPK, ditenggarai telah memainkann politik uang. Meskipun belum terbukti
sampai sekarang, fakta tersebut mengindikasikan bahwa pemilihan demokratis
tidak serta-merta menggaransi politik uang.
Namun sayang, dalam pemilihan ketua umum parpol, aklamasi masih dianggap cara
yang tidak demokratis karena terlanjut dipersepsikan ke arah yang negatif. Nahasnya
lagi, Calon sudah tidak lagi dilihat sejauh mana kemampuan dalam mengelola partai.
Yang diperahtikan adalah bagaimana menjadikan partai tidak terjadi konflik.
Labih jauh lagi, aklamasi dipandang sebagai kegaggalan partai politik
dalam menelurkan regenerasi parpol sehingga parpol kesulitan menemukan
bibit-bibt baru untuk menahkodai partai. Persepsi tersebut dapat diamini
apabila melihat fenomena yang terjadi belakaanan ini. Partai PDIP, Golkar, PKB,
Hanura, Gerindra, dan Demokrat masih bermasalah dengan regenerasi parpol.
Persepsi inilah yang terus terbangun sehingga ada kecenderungan bahwa aklamasi
meruakan cara yang tidak demokratis.
Persepsi negatif terhadap parpol bisa sah-sah saja dialamatkan
kepada parpol. Pasalnya, parpol lebih
condong memilih personalitas daripada induvidu yang memiliki ikatan ideologis. Ikatan
ideologis parpol dengan masyarakat misalnya, dewasa ini pudar seiring dengan
praktik-praktik kotor dan kepentingan pragmatis. Persepsi inilah yang terus
menjalar ke seluruh struktur parpol. Akbatnya, parpol kehilangan daya tarik dan
tidak mampu melahirkan kader yang militan, dan memiliki visi kenegaraan.
Pengelolaan
Partai
Tidak dapat dimungkiri bahwasaya pengelolaan parpol menjadi salah
satu syarat mutlak untuk menegakkan parpol yang modern serta mempu menjadi
pilar demokrasi. Ketika parpol dikelola dengan institusional, maka arah aprpol
terhadap perkembangan demokrasi akan terjaga. Samuel P. Huntington (1968)
mengamini bahwa partai yang kuat dan terinstitusional akan memberikan
sumbangsih positif terhadap demokrasi dengan baik.
Namun di Indonesia, pengelolaan parpol masih menjadi problem
kritis yang belum menemukan solusi. Maslah transparansi, pengkaderan yang baik
serta otonomi partai masih jauh dari harapan. Pengelolaan parpol masih didominsai
oleh cara-cara kekeluargaan. Parpol lebih condong mengedepankan orang-orang terdekat dalam mengisi
posisi-posisi strategis.
Selin itu, mekanisme dalam organisasi
kepartaian tidak dikelola sebagaimana politik on the track. Dengan kata lain, pengelolaan parpol atas
dasar kekerabatan. Disinilah muncul resistensi dari kader yang tidak
menghendaki politik kekeluargaan. Dalam hal ini, konflik parpol mudah terjadi.
Dan bahkan, polemik demikian menjadi embrio terbelahnya parpol.
Akhirnya, pengelolaan partai politik menjadi suatu keniscayaan guna menegakkan
regenerasi parpol. Jika pengelaolaan parpol masih menggantungkan kepada figur
tua atau figur kharismatik, maka akan kesulitan untuk mengelola kompleksitas
konstituen dan masyarakat. Hal ini pula akan sulit merobohkan aklamasi yang
tidak meritokrasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar