Pesta Bikini dan Wajah Pendidikan
Oleh
Aminuddin
Alumnus Matematika di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Artikel ini Sebelumnya Telah Dimuat di Harian Suara Merdeka Edisi 02 Mei 2015
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/pesta-bikini-dan-wajah-pendidikan/
Sejatinya pendidikan merupakan ritual yang senantiasa dilakukan dengan
kesadaran tinggi. Pendidikan dibentuk dan dilakukan dengan mengembangkan
potensi didik dan diarahkan ke lorong yang benar sehingga anak didik tidak
kehialgnan arah dalam menginjakkan kakinya dalam proses kedewasaan. Idealnya,
pendidikan selalu dilakukan selam 24 jam dalam rangka untuk mengatkan karakter
kita. Ibaratnya, kita belajar dari bangun tidur hingga tidur lagi.
Nampaknya, dunia pendidikan kita masih belum bangun dari tidurnya dan
mengalami pesakitan. Potret anak didik dewasa ini hanya dihiasai oleh gmerlap
pergaulan bebas. Proses modernisasi ayng kian tidak terbendung memaksa karakter
anak didik bergeser dari sbsaitansi pendidikan. Minuman keras, konvoi,
kekerasan antar pelajar, dan pesta seks sudah bukan hal yang tabu bagi anak
didik.
Terkait dengan hal itu, Ujian nasional yang beberap hari laluselsai
dilaksanakan pada jenjang Sekolah menengah atas
(SMA) dselimuti awan kelam bernama pesta bikini. Pesta bikini menjadi
fenomena faktual yang mencoreng interitas pendidikan kita. Pesta pasca ujian
nasiona ang semestinya dilaksanakan dengan berada, beretika, dan megedepankan
moral, malah dicoreng denga pesta bikini (bikini summer
dress).
Rencana pesta bikin tersebut langsung mendapat kritik keras dari publik.
Bagaimana mungkin ajatan ujian nasional yang semsrtinya dirasakan dengan
kegelisahan, malah disambut dengan pesta yang jauh melenceng dari nilai-nilai
moral, etika, dan etika pergaulan.
Pesta bikin tersebut semakin melegitimasi marwah pendidikan kita.
Pendidikan yang semestinay menjadi ujung tombak dalam proses perkembagnan,
pendewasaan, malah tekontaminasi oleh perbuatan ayng melanggar nilai-nilai
sosial, agama, budaya, dan moral. Subsatansi pedidikan yang menjunjung budi
luhur, budi pekerti, malah terjerembab kepada pesta bertajuk pesta bikini. Apabila
semasa kita selalu mendengar pesta pasca ujian nasionel dengan seremonial
corat-coret baju, konvoi, kini telah bermetamorvois ke arah ayng lebih eksterim
dan cenderung mendegradsi moral para pelajar.
Sebagai orang tua, kita patut prihatin dan menitikkan air mata. Para
peserta ujian yang seharusnya pulang ke rumah dengan semangat baru menyongsong
amsa depan pasca UN, malah mengalihkan pertatian terhadap pesta cacat mural
tersebut. Terkait dengan hal ini, apa yang salah degan dinia pendidikan kita?
Apakah sekolah, guru, dan para pendidik lalai dalam memberikan gizi moral
kepada anak didiknnya? Apakah orang tua sebagai indvidu yang paling dekat juga lalai
dalam hal ini? Sedere pertanyaan sederhana ini patut kita refleksikan bersama.
Krisis Peradaban
Pendidikan merupakan jembatan dari perubahan peradaban manusia ayng
diyakini mampu menekan dan merubah koflik horizontal di tengah-tengah
masyraakat. Pendidikan juga sebagai wadah untuk memnyembuhkan masyrakat dari
tunakebodohan dan tunaperadaban. Dengan pendidikan, penyakit kronis masyrakat
diharapkan dapat sembuh. Melalui pendidikan pula, martabat manusia juga semakin
terangkat di mata dunia.
Akan tetapi, dunia pendidikan di indonesia hingga kini masih bergolak
dengan maslaah foralitas semata. Kurikulum, UN, sertifikasi, sudah menjadi
abgian ayng tidak terpisahkan di beank guru. Padahal, sertifikasi tidak
memiliki dampak signifikan dalam memabngun peradaban manusia.
Apa yang terjadi belakangan ini merupakan refleksi dari
terkikisnya nilai peradaban di dunia pendidikan. Pesta seks, dan pesta bikini
tidak akan terjadi jika peradaban pendidikan selalu dijunjung tinggi, baik oleh
para pendidik maupun sekolah itu sendiri. Bgaimana mungkin pendidik tidak
memiliki tangngug jawab aabila pesta yang sudah melendeng dari roll model
pendidikan kita dilaksanakan seperti hajatan pernikahan.
Di negeri kita, pendidikan sebagai suatu proses belum
sepenuhnya disadari sampai saat ini. Nyatanya, para pendidik dan pemerintah
sebagai pengambil kebijakan lebih senang memburu hasil ketimbang proses.
Akibatnya, tujuan filosofis pendidikan hanyalah suatu jargon fatamorgana. Pendidikan
tidak mampu menetaskan manusia-manusia yang berintegritas tinggi serta mampu
mengawinkan kecerdasan otak dan kecerdasan hati (Edi Sugianto, 2012).
Kebudayaan merupakan akar dari kehidupan bangs yang
seharusnya ditegakkan. Pesta bikini yang mengemuka akhir-akhir ini merupakan
potret bagaimana kebudayaan didegradasi oleh polah hidup yang menyimpang dari
subsatansi kebudayaan tersebut.Untuk itu, semua elemen terkait, baik orang tua,
guru, dan pemerintah tidak melupakan kebudayaan (tunabudaya). Dengan begitu,
fenomena melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi ada terutama di
dunia pendidikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar