Senin, 04 Mei 2015

Pesta Bikini dan Wajah Pendidikan

Pesta Bikini dan Wajah Pendidikan
Oleh Aminuddin
Alumnus Matematika di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Artikel ini Sebelumnya Telah Dimuat di Harian Suara Merdeka Edisi 02 Mei 2015
 http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/pesta-bikini-dan-wajah-pendidikan/
Sejatinya pendidikan merupakan ritual yang senantiasa dilakukan dengan kesadaran tinggi. Pendidikan dibentuk dan dilakukan dengan mengembangkan potensi didik dan diarahkan ke lorong yang benar sehingga anak didik tidak kehialgnan arah dalam menginjakkan kakinya dalam proses kedewasaan. Idealnya, pendidikan selalu dilakukan selam 24 jam dalam rangka untuk mengatkan karakter kita. Ibaratnya, kita belajar dari bangun tidur hingga tidur lagi.
Nampaknya, dunia pendidikan kita masih belum bangun dari tidurnya dan mengalami pesakitan. Potret anak didik dewasa ini hanya dihiasai oleh gmerlap pergaulan bebas. Proses modernisasi ayng kian tidak terbendung memaksa karakter anak didik bergeser dari sbsaitansi pendidikan. Minuman keras, konvoi, kekerasan antar pelajar, dan pesta seks sudah bukan hal yang tabu bagi anak didik.
Terkait dengan hal itu, Ujian nasional yang beberap hari laluselsai dilaksanakan pada jenjang Sekolah menengah atas  (SMA) dselimuti awan kelam bernama pesta bikini. Pesta bikini menjadi fenomena faktual yang mencoreng interitas pendidikan kita. Pesta pasca ujian nasiona ang semestinya dilaksanakan dengan berada, beretika, dan megedepankan moral, malah dicoreng denga pesta bikini (bikini summer dress).
Rencana pesta bikin tersebut langsung mendapat kritik keras dari publik. Bagaimana mungkin ajatan ujian nasional yang semsrtinya dirasakan dengan kegelisahan, malah disambut dengan pesta yang jauh melenceng dari nilai-nilai moral, etika, dan etika pergaulan.
Pesta bikin tersebut semakin melegitimasi marwah pendidikan kita. Pendidikan yang semestinay menjadi ujung tombak dalam proses perkembagnan, pendewasaan, malah tekontaminasi oleh perbuatan ayng melanggar nilai-nilai sosial, agama, budaya, dan moral. Subsatansi pedidikan yang menjunjung budi luhur, budi pekerti, malah terjerembab kepada pesta bertajuk pesta bikini. Apabila semasa kita selalu mendengar pesta pasca ujian nasionel dengan seremonial corat-coret baju, konvoi, kini telah bermetamorvois ke arah ayng lebih eksterim dan cenderung mendegradsi moral para pelajar.
Sebagai orang tua, kita patut prihatin dan menitikkan air mata. Para peserta ujian yang seharusnya pulang ke rumah dengan semangat baru menyongsong amsa depan pasca UN, malah mengalihkan pertatian terhadap pesta cacat mural tersebut. Terkait dengan hal ini, apa yang salah degan dinia pendidikan kita? Apakah sekolah, guru, dan para pendidik lalai dalam memberikan gizi moral kepada anak didiknnya? Apakah orang tua sebagai indvidu yang paling dekat juga lalai dalam hal ini? Sedere pertanyaan sederhana ini patut kita refleksikan bersama.
Krisis Peradaban
Pendidikan merupakan jembatan dari perubahan peradaban manusia ayng diyakini mampu menekan dan merubah koflik horizontal di tengah-tengah masyraakat. Pendidikan juga sebagai wadah untuk memnyembuhkan masyrakat dari tunakebodohan dan tunaperadaban. Dengan pendidikan, penyakit kronis masyrakat diharapkan dapat sembuh. Melalui pendidikan pula, martabat manusia juga semakin terangkat di mata dunia.
Akan tetapi, dunia pendidikan di indonesia hingga kini masih bergolak dengan maslaah foralitas semata. Kurikulum, UN, sertifikasi, sudah menjadi abgian ayng tidak terpisahkan di beank guru. Padahal, sertifikasi tidak memiliki dampak signifikan dalam memabngun peradaban manusia.
Apa yang terjadi belakangan ini merupakan refleksi dari terkikisnya nilai peradaban di dunia pendidikan. Pesta seks, dan pesta bikini tidak akan terjadi jika peradaban pendidikan selalu dijunjung tinggi, baik oleh para pendidik maupun sekolah itu sendiri. Bgaimana mungkin pendidik tidak memiliki tangngug jawab aabila pesta yang sudah melendeng dari roll model pendidikan kita dilaksanakan seperti hajatan pernikahan.
Di negeri kita, pendidikan sebagai suatu proses belum sepenuhnya disadari sampai saat ini. Nyatanya, para pendidik dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan lebih senang memburu hasil ketimbang proses. Akibatnya, tujuan filosofis pendidikan hanyalah suatu jargon fatamorgana. Pendidikan tidak mampu menetaskan manusia-manusia yang berintegritas tinggi serta mampu mengawinkan kecerdasan otak dan kecerdasan hati (Edi Sugianto, 2012).
Kebudayaan merupakan akar dari kehidupan bangs yang seharusnya ditegakkan. Pesta bikini yang mengemuka akhir-akhir ini merupakan potret bagaimana kebudayaan didegradasi oleh polah hidup yang menyimpang dari subsatansi kebudayaan tersebut.Untuk itu, semua elemen terkait, baik orang tua, guru, dan pemerintah tidak melupakan kebudayaan (tunabudaya). Dengan begitu, fenomena melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi ada terutama di dunia pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar