Kongres Demokrat dan Problem Regenerasi
Oleh Aminuddin
Analis Politik dan
Alumnus UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta
artikel ini telah dimuat di Harian Analisa edisi 25 Mei 2015
http://analisadaily.com/opini/news/kongres-demokrat-dan-problem-regenerasi/136168/2015/05/25
Kongres patai demokrat di Surabaya pada tanggal 11-13 Mei menjdi ujuan
tersendiri dalam proses regenerasi. Namun sayang, ketokohan susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih belum tergoyahkan dalam kedudukannya
sebagai ketua umum. Hampir semua suaa mengara kepada SBY untuk kembali
menjadi ketua umum. Jika benar terjadi, maka problem klasik mengenai egenerasdi
kepemimpinan di tubuh parpol belum berjalan.
Fenomena atas mengonfirmasi
bahwa SBY masih
diperhitungkan di internal partai. Harapan regenerasi parpol pun masih utopia.
Wajah lama dan kaum tua masih menjadi penentu bergeraknya parpol. Ibaratnya,
parpol masih memiliki ketergantungan terhadap pesohor maupun orang kuat.
Sartori (1976) dalam Arya Budi (2013) mengungkapkan bahwa cenderung menunjukkan
orang kuat di dalam organisasi partai sebagai sebuah entitas kelompok. Orang
kuat lebih berpengaruh daripada parpol itu sendiri sehingga terkesan bahwa
figur individu masih di atas parpol. Disinilah gejala personalisasi politik
masih menjadi keniscayaan.
Ketokohan SBY di internal partai Demokrat sudah tidak dapat terbantahkan lagi. Sejak ia mendirikan partai
Demokrat pada tahun 2004, posisi SBY belum bisa tergoyahkan. Meskipu anas
urbaningrum pernah menjdi ketua umum, seiring ditrangkakan korupsi oleh KPK,
sosok SBY tetap menajdi pengendali partai.
Demokrat adalah SBY, sedangkan SBY belum tentu PDIP. SBY merupakan sosok penting di dalam parpol. Tidak heran jika suatu saat,
kepemimpinan parpol hanya akan diisi oleh orang yang memiliki silsilah politik
atau berbasis keluarga SBY. Parpol berbasis keluarga (dinasti parpol)
memang tidak lepas dari tradisi untuk membangun kekuasaan. Hal itu bertujuan untuk
mengekalkan kekuasaan agar tidak mudah lengser.
Gaetano Mosca (1980) memaparkan
bahwa setiap kelas menunjukkan tendensi untuk membangun
suatu tradisi turun-menurun di dalam kenyataan, jika tidak bisa di dalam aturan
hukum. Fenomena parpol berbasis
keluarga tidak hanya terjadi di Indonesia yang notabene masih berkecimpung
dalam tradisi demokrasi. Negara-negara lain seperti Amerika, Pilipina, dan
India pun masih mengalami sengkarut partai keluarga. Misalnya di Amerika, sekitar
tahun 90an sampai 200an, dinasti politik sangat kentara di silsilah politik Kennedy, Bush,
dan Clinton. Di Filipina ada dinasti Marcos, Aquino, dan Arroyo,
sementara di India ada dinasti Gandhi dan Nehru, Pakistan ada dinasti Bhutto,
dan sebagainya.
Saham Parpol
Selama ini, problem
klasik yang menghinggapi penegakan demokrasi di internal parpol adalah
digdayanya pemegang kendali pemilik saham parpol. Pemilik saham parpol (baca:
pemilik modal) selalu menjadi penentu bergeraknya mesin parpol. Pemegang salah
parpol leluasa menggerakkan arah suara parpol dalam mencari suara dalam
pemilihan ketua umum. Pemilik ketua parpol masih dianggap orang paling istimewa
dalam struktural parpol. Ini terjadi karena parpol tidak mandiri dalam segi
pemodalan. Artinya, keuangan parpol masih tergantung kepada memilik modal.
Kekuatan modal telah
menggeser nilai-nilai ideologi parpol ke arah bisnis. Parpol tidak lagi
dikelola sebagaimana mestinya. Artinya, parpol dikelola dalam azaz untung dan
rugi. Dimana ada keuntungan, disitulah proses politik berjalan. Sebaliknya,
jika tidak memperoleh keuntungan finansial, otomatis disingkirkan. Herbert
Alexander
(2003), mengonfirmasi bahwa uang telah memegang peranan terpenting dalam kancah politik,
sebab sifat konvertabilitas uang yang mudah untuk dipertukarkan demi
kepentingan apapun termasuk dalam demokrasi politik elektoral.
Fenomena semacam ini
menggiring elit parpol untuk melakukan pertempuran dalam dua kubu. Pertama,
elit kaum tua melawan kaum muda. Kedua, orang kuat (kaya) melawan kaum ideologis. Pertarungan tersebut
telah terjadi di dua parpol yang saat ini sedang terbelah. Kader yang
menyuarakan regenerasi dapat dikategorikan sebagai kaum muda. Bisa saja, kaum
muda ini masuk dalam kategori kaum ideologis, bisa juga tidak. Sedangkan kaum
tua datang dari gerbong orang kaya.
Ketika kedua kubu ini
berperang, maka ideologi parpol semakin tergerus. Yang ada hanyalah kepentingan
pragmatis politik semakin menguat. Akibatnya, parpol kehilangan daya tawar dan
wibawanya di mata masyarakat. Begitupun dengan kemampuan untuk menjadi partai
yang demokratis. Imbasnya, roh parpol sebagai organisasi sosial politik menjadi
utopia belaka.
Seharusnya
Untuk mengikis segala
stigma negatif terhadap parpol, maka budaya aklamasi yang tidak meritokrasi
harus segera dihindarkan. Salah satu syaratnya adalah, pertama, parpol memulai memikirkan kemandirian ekonomi. Dengan kata lain, parpol berhenti
menghamba kepada pemegang saham mayoritas parpol. Artinya,
partai harus mendikotomikan antara kepentingan partai dan kepentingan ekonomi
guna menghindari pengelolaan partai seperti perusahaan. Lebih dari itu, partai
tidak lagi didesain sebagai komoditas untuk menghasilkan pundi-pundi uang.
Kedua,
mencari figur yang mampu
menjadi magnet dan kader militan. Figur tersebut tidak membebani beban
elektoral partai. Dengan kata lain, figur dan sosok yang memimpin parpol bisa
mengangkat pamor partai dan memiliki magnet elektoral yang kuat agar bisa
mengangkat elektoral.
Akhirnya, kongres partai
Demokrat di Surabaya
menjadi momentum bagi Partai
berlambang Mercy untuk
menyaring kader-kader berkualitas melalui pintu demokrasi yang meretokrasi.
Dengan begitu Demokrat akan
menjadi partai yang mandiri menegakkan demokrasi tanpa harus melalui aklamasi
dalam pemilihan ketua umum partai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar