Oleh Aminuddin
Alumnus Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta
Gubernur Daerah Khusus
Ibu Kota Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) memang dikenal sebagai pemimpin
yang blak-blakan. Gaya komunikasinya yang khas dan tanpa kompromi membuat
sebagian kalangan panas telinga. Tak pelak, gaya khas Ahok menjadi salah satu bagian
dari perseteruan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta.
Selain gaya
komunikasinya yang demikian, perseteruan yang mengemuka belakangan ini juga dipicu
dugaan anggaran siluman yang dilaporkan ke KPK. Perseteruan semakin berlanjut
ketika Kementerian dalam Negeri melakukan mediasi antara Ahok dan DPRD. Mediasi
yang berujung buntu tersebut semakin menegaskan bahwa Ahok tidak kompromi
dengan uang rakyat.
Langkah Ahok yang
melaporkan dugaan anggaran siluman ke KPK menjadi bukti bahwa anggaran masih
menjadi bagian dari ladang basah untuk digeruk. Menguapnya anggaran siluman
yang diungkapkan oleh Ahok merepresentasikan bahwa ada yang tidak beres terkait
dengan anggaran yang di usulkan oleh legislatif. Ini juga semakin menegaskan
bahwa sinergi antara legislatif dan Ahok tidak seirama.
Bisa dibilang, Ahok menerobos
ketidakbenaran di legislatif dengan menentang berbagai kecurigaan dalam proses pengesahan
anggaran 2015. Bahkan ia tidak mau kompromi dalam penyusunan anggaran. Ia juga
menekankan agar RAPBD Jakarta menggunakan e-budgeting
agar dapat dikontrol oleh masyarakat luas. Namun, anggota DPRD DKI tidak mau
menggunakan hal tersebut.
Semenjak menjadi wakil
Gubernur DKI sampai menggantikan Joko Widodo sebagai Gubernur, legislatif
diposisikan sebagai “musuh” oleh Ahok. Bahkan ia tidak segan-segan menjuluki
legislatif sebagai perampok. Perseteruan semakin meruncing setelah seluruh
fraksi akan menggunakan hak angket yang berujung kepada pemakzulan.
Ahok memang sedikit dari
banyak pemimpin yang berani bertarung sendiri. Ahok berani keluar dari zona
nyaman hanya demi mengemban amanah rakyat. Ahok merupakan sosok tunggal yang
tidak didukung oleh legislatif. Belum lagi, ia keluar dari partai yang
mengusungnya menjadi wakil Gubernur, Partai Gerindra kala itu. Ia hanya pemimpin
yang memperoleh dukungan dari rakyat.
Gaya kepemimpinan Ahok
memang berbeda dengan kepala daerah lainnya. Bahkan, sekelas presiden sekalipun
sangat jauh jika dibandingkan dengan Ahok. Selama ini, presiden republik
Indonesia dikenal lemah lembut dan lebih menitikberatkan sebagai presiden
karismatik. Sebut saja presiden Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo
Bambang Yudhoyono, dan sekarang Jokowi. Hanya presiden Soekarno yang dikenal
berapi-api.
Jika dikaji sepintas,
gaya komunikasi Ahok memang tidak patut untuk dilakukan. Terlebih lagi ia
adalah seorang pemimpin ibu Kota. Namun apabila melihat lebih jauh, komunikasi
demikian memang diperlukan agar orang-orang yang duduk sebagai wakil rakyat
tidak sewenang-wenang dalam menetapkan anggaran. Jika perlu, presiden pun harus
melakukan hal yang serupa: tegas dan tanpa kompromi.
Tapi sayang, Ahok hanya
seorang Gubernur DKI Jakarta yang kekuasaannya terbatas. Artinya, Ahok hanya
bisa berwenang untuk mengelola DKI Jakarta. Seandainya Ahok menjadi presiden
republik Indonesia, ia pasti menolak transaksi politik dari partai yang
mengusungnya. Jika ia adalah seorang presiden, bisa jadi negeri ini tidak
mengalami kisruh politik seperti yang terjadi belakangan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar