Oleh Aminuddin
Alumnus UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta
Hampir di setiap
kesempatan calon presiden (capres) melakukan yang ritual kampanye di Jawa Timur, pulau Madura menjadi
salah satu daerah yang belum tersentuh. Hingar-bingar kampanye politik yang
menawarkan visi misi hampir tidak terdengar di pulau garam ini. Ketika calon
presiden melakukan kampanye, paling mentok di Surabaya yang notabene adalah ibu
kota Jawa Timur.
Pada pemilihan presiden
(Pilpres) tahu 2014 lalu, pulau Madura disambangi oleh capres Jusuf Kalla (JK) ketika
itu. Dalam dzikir politiknya, ia menjanjikan dua hal strategis. Pertama,
JK menjanjikan peningkatan mutu pendidikan, baik sekolah umum maupun pondok
pesantren yang ada di Madura. Kedua, JK berjanji akan melanjutkan
program pemerintah ketika menjadi wakil presiden, yakni menjadikan pulau Madura
sebagai kawasan industri besar. Salah satu tawaran untuk sektor tersebut adalah
membangun pelabuhan berkapasitas internasional.
Janji tersebut memang sangat
realistis di pulau Madura. Jika ditelaah dari sektor pendidikan, pulau Madura
merupakan salah satu ujung tombak dalam memajukan pendidikan. Selama ini, pulau
Madura memang dikenal sebagai pulau yang memiliki banyak pesantren. Di ujung timur Madura (Sumenep) sampai Bangkalan,
pesantren sangat banyak. Misalnya di Sumenep, ada An-Nuqayah dan Al-amin. Di Pamekasan
ada pondok pesantren (ponpes) Bata-bata, dan ponpes Banyuanyar. di ujung barat,
yang terkenal sampai saat ini adalah pondok pesantren yang dipimpin oleh kyai
Kholil.
Di sekolah umum ada
berbagai universitas. Di Pamekasan ada Universitas Madura (Unira), Universitas
Islam Madura (UIM), dan di Bangkalan ada universitas Tronojoyo, dan masih
banyak lagi yang lainnya. Jika sektor pendidikan benar-benar diperhatikan oleh
pemerintah, bukan tidak mungkin pulau Madura menjadi sentral pendidikan
sehingga melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Sedangkan di bidang
ekonomi, pulau Madura dikenal sebagai salah satu kiblat garam. Garam yang
melimpah di pulau Madura menjadikannya sebagai salah satu tonggak pertumbuhan
ekonomi. Tapi sayang, melimpahnya garam yang ada di Madura tidak diiringi oleh
kebijakan pemerintah dalam mengelola dengan baik. Masih saja pemerintah
mengimpor garam. Akibatnya, masyarakat yang mengantungkan kehidupannya kepada
garam menjadi pesakitan.
Sejak pulau Madura
memiliki jembatan Surabaya- Madura (Suramadu), yang sekarang menjadi ikon utama
provinsi Jawa Timur, tidak serta-merta mengubah perekonomian masyarakat Madura.
Suramadu hanya menjadi ikon saja dan tidak memiliki dampak luas dan signifikan.
Hampir seluruh masyarakat di Madura masuk dalam kategori menengah ke bawah.
Tesis tersebut dapat dilihat bagaimana masyarakat
Madura enggan tinggal di daerahnya sendiri. Masyarakat Madura lebih memilih mencari kerja di luar Madura dengan
menyerbu kawasan tapal kuda Jatim. Bahkan tidak jarang orang Madura menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI).
Potret ini mengindikasikan bahwa pulau Madura belum menjadi prioritas utama
pemerintah dalam pembangunan, baik dalam sektor pendidikan maupun ekonomi.
Di samping perekonomian yang masih compang-camping, sektor kesehatan juga
belum memadai. Rumah sakit yang ada di Madura masih jauh dari standar nasional.
Empat Kabupaten di Madura tidak ada rumah sakit yang dapat menjadi rujukan
utama ketika masyrakatnya sakit. Kota metropolitan seperti Surabaya masih
menjadi rujukan utama ketika ada yang sakit.
Dalam beberapa tahun terakhir, Madura belum mendapatkan tempat di republik
ini. Hampir semua pemberitaan terkait dengan pulau Madura bukan merupakan hal
yang membanggakan. Misalnya saja kekerasan yang mengatasnamakan agama. Kasus Syi’ah
yang diusir dari Madura menjadi salah satu berita yang menggemparkan di era
pemerintahan Susilo bambang Yudhoyono. Konflik demikian merupakan bentuk
kebencian terhadap kaum minoritas.
Sedangkan di era Joko Widodo-Jusuf Kalla, berita menggemparkan datang dari Bangkalan
dimana mantan bupati sekaligus anggota DPRD Fuad Amin ditangkap oleh KPK. Bagi
pemerintahan Jokowi, penangkapan Fuad Amin merupakan prestasi tersendiri
mengingat selama ini pulau Madura hampir tidak pernah terjamah praktik-praktik
kotor seperti korupsi. Namun bagi orang Madura, itu menjadi aib dan mencoreng
nama baik Madura.
Singkat kata, Jokowi-JK memang kalah telak dalam
pemilihan presiden beberapa bulan lalu. Namun, kekalahan tersebut tidak boleh
menjadi memarjinalkan Madura. Oleh sebab itu, pemerintah harus menepati
janjinya dalam membangun sektor pendidikan dan perekonomian di pulau garam
tersebut. Jangan sampai pemerintah di era Jokowi sama seperti pemerintah
sebelumnya, yaitu lupa pada janji-janji manisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar