Oleh Aminuddin
artikel ini sebelumnya telah dimuat di Harian Koran Tempo edisi 09 Desember 2014
http://koran.tempo.co/konten/2014/12/09/359061/Kiai-Kanjeng
http://koran.tempo.co/konten/2014/12/09/359061/Kiai-Kanjeng
Pulau Madura sangat
kental dengan dunia pesantren. Hampir setiap daerah terdapat pesantren. Bahkan
banyak pesantren besar yang terkenal di Madura. di ujung timur Madura, ada
pondok pesantren Al-Amin dan An-nuqayah (Sumenep), Banyuanyar dan Bata-Bata
(Pamekasan). Sedangkan di Bangkalan, yang
terkenal sampai saat ini adalah pondok pesantren yang dipimpin oleh kyai Kholil.
Biasanya, pemimpin atau pengasuh di pondok tersebut disebut Kiai.
Kiai dalam bahasa Madura
disebut kyae atau ma’kae. Pemberian gelar kyae atau ma’kae
tidak seperti dunia kampus memberikan gelar akademik. Tokoh memiliki gelar kyae atau ma’kae acap
kali identik dengan pesantren, kemantapan moral, tingkat keimanan yang tinggi,
dan memiliki disiplin keilmuan agama yang luas. Karisma yang dimilikinya tidak
hanya masuk dalam kategori sebagai kaum elit agama. Namun menjadi tolak ukur kewibawaan
pesantren.
Pesantren memang
memiliki tempat khusus di hati masyarakat Madura. Dalam pandangan Pradjarta Dirdjosanjoto (1999), Pesantren khususnya di
Jawa dan Madura menduduki posisi
strategis dalam masyarakat serta mendapatkan
pengaruh dan penghargaan besar
karena perannya dalam masyarakat. Sehingga masyarakat tidak
segan-segan menitipkan buah hatinya di pesantren tersebut.
Sejalan dengan In’am Sulaiman (2010), ketokohan kiai
yang sekaligus sebagai pengasuh pesantren dipandang sebagai seorang tokoh yang
karismatik karena pengaruhnya khususnya di kalangan komunitas wali santri. Dalam konteks inilah pengasuh di
pesantren (baca: Kiai) sangat dihormati. Kiai tidak hanya dihormati dalam segi
ilmu agama, bahkan keputusan dalam dunia politik pun, kiai masih memiliki peran
sentral. Tidak sedikit dari masyarakat meminta peruah atau petunjuk dalam
menetapkan hak politiknya, baik di pemilihan kepada desa, kepala daerah maupun
presiden.
Di Pamekasan, Madura misalnya, tempat saya lahir dan dibesarkan.
Masyarakat disana masih kental dengan petuah para kiai. Ketika Mantan Bupati Pamekasan,
KH Kholilurrahman memenangi pemilihan Bupati, ia berlatar belakang Kiai. Karena
Karismanya sebagai ulama, ia dipilih oleh mayoritas warga Pamekasan. Meskipun
hanya satu periode, setidaknya ia membuktikan bahwa latar belakang (background)
kiai bisa mendulang banyak suara untuk mengantarakannya ke karpet merah kursi
Bupati.
Begitupun dengan Fuad
Amin. Sebagai cicit
Syaikhona Kholil, ia memiliki
keuntungan sebagai pesohor. Tanpa harus kampanye atau blusukan, aliran
darah dari Kiai Kholil menjadi modal politiknya untuk dikenal konstituen. Sebelum
terjaring Komisi pemberantasan korupsi (KPK), Fuad Amin termasuk tokoh ulama
sekaligus politikus yang disegani di daratan Madura. Mungkin inilah yang
membuat Fuad Amin dijuluki sebagai “Kanjeng”, sebutan untuk raja dahulu. Latar belakang itulah yang menjadikan dia
sebagai sosok yang diperhitungkan sekaligus dihormati di daerah Bangkalan. Tidak mengherankan
kalau Fuad Amin bisa memimpin Bangkalan selama dua periode atau 10 tahun.
Kini, KPK telah menetapkan Fuad Amin sebagai tersangka
dalam kasus korupsi. Sang penguasa tunggal yang dimitoskan sebagai “orang kuat”
di Bangkalan tersebut harus bermalam di rutan KPK setelah sebelumnya terjaring
operasi tangkap tangan (OTT) setelah lembaga anti rasuah tersebut.
Warga Bangkalan, Madura pantas kecewa dan marah
terhadap Fuad Amin. Latar belakangnya sebagai keturunan kiai tidak hanya merusak
kepercayaan masyarakat Bangkalan, Madura pada umumnya. Namun telah mencederai nama
baik kiai. Gelar “Kanjeng” yang selama ini disenangnya harus luntur akibat
perilaku buruknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar