Minggu, 08 Maret 2015

Kiai Kanjeng

Oleh Aminuddin
artikel ini sebelumnya telah dimuat di Harian Koran Tempo edisi 09 Desember 2014
http://koran.tempo.co/konten/2014/12/09/359061/Kiai-Kanjeng
Pulau Madura sangat kental dengan dunia pesantren. Hampir setiap daerah terdapat pesantren. Bahkan banyak pesantren besar yang terkenal di Madura. di ujung timur Madura, ada pondok pesantren Al-Amin dan An-nuqayah (Sumenep), Banyuanyar dan Bata-Bata (Pamekasan).  Sedangkan di Bangkalan, yang terkenal sampai saat ini adalah pondok pesantren yang dipimpin oleh kyai Kholil. Biasanya, pemimpin atau pengasuh di pondok tersebut disebut Kiai.

Kiai dalam bahasa Madura disebut kyae atau ma’kae. Pemberian gelar kyae atau ma’kae tidak seperti dunia kampus memberikan gelar akademik. Tokoh  memiliki gelar kyae atau ma’kae acap kali identik dengan pesantren, kemantapan moral, tingkat keimanan yang tinggi, dan memiliki disiplin keilmuan agama yang luas. Karisma yang dimilikinya tidak hanya masuk dalam kategori sebagai kaum elit agama. Namun menjadi tolak ukur kewibawaan pesantren.
Pesantren memang memiliki tempat khusus di hati masyarakat Madura. Dalam pandangan Pradjarta  Dirdjosanjoto (1999), Pesantren khususnya  di  Jawa  dan  Madura menduduki  posisi  strategis  dalam masyarakat serta  mendapatkan  pengaruh dan  penghargaan  besar  karena  perannya dalam  masyarakat. Sehingga masyarakat tidak segan-segan menitipkan buah hatinya di pesantren tersebut.
Sejalan dengan In’am Sulaiman (2010), ketokohan kiai yang sekaligus sebagai pengasuh pesantren dipandang sebagai seorang tokoh yang karismatik karena pengaruhnya khususnya di kalangan komunitas wali santri. Dalam konteks inilah pengasuh di pesantren (baca: Kiai) sangat dihormati. Kiai tidak hanya dihormati dalam segi ilmu agama, bahkan keputusan dalam dunia politik pun, kiai masih memiliki peran sentral. Tidak sedikit dari masyarakat meminta peruah atau petunjuk dalam menetapkan hak politiknya, baik di pemilihan kepada desa, kepala daerah maupun presiden.
Di Pamekasan, Madura  misalnya, tempat saya lahir dan dibesarkan. Masyarakat disana masih kental dengan petuah para kiai. Ketika Mantan Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman memenangi pemilihan Bupati, ia berlatar belakang Kiai. Karena Karismanya sebagai ulama, ia dipilih oleh mayoritas warga Pamekasan. Meskipun hanya satu periode, setidaknya ia membuktikan bahwa latar belakang (background) kiai bisa mendulang banyak suara untuk mengantarakannya ke karpet merah kursi Bupati.
Begitupun dengan Fuad Amin. Sebagai cicit Syaikhona Kholil, ia memiliki keuntungan sebagai pesohor. Tanpa harus kampanye atau blusukan, aliran darah dari Kiai Kholil menjadi modal politiknya untuk dikenal konstituen. Sebelum terjaring Komisi pemberantasan korupsi (KPK), Fuad Amin termasuk tokoh ulama sekaligus politikus yang disegani di daratan Madura. Mungkin inilah yang membuat Fuad Amin dijuluki sebagai “Kanjeng”, sebutan untuk raja dahulu. Latar belakang itulah yang menjadikan dia sebagai sosok yang diperhitungkan sekaligus dihormati di daerah Bangkalan. Tidak mengherankan kalau Fuad Amin bisa memimpin Bangkalan selama dua periode atau 10 tahun.
Kini, KPK telah menetapkan Fuad Amin sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Sang penguasa tunggal yang dimitoskan sebagai “orang kuat” di Bangkalan tersebut harus bermalam di rutan KPK setelah sebelumnya terjaring operasi tangkap tangan (OTT) setelah lembaga anti rasuah tersebut.
Warga Bangkalan, Madura pantas kecewa dan marah terhadap Fuad Amin. Latar belakangnya sebagai keturunan kiai tidak hanya merusak kepercayaan masyarakat Bangkalan, Madura pada umumnya. Namun telah mencederai nama baik kiai. Gelar “Kanjeng” yang selama ini disenangnya harus luntur akibat perilaku buruknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar