Bola dan One Derection
Oleh Aminuddin
Penggemar Sepak Bola Tanah Air dan Alumnus
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Beberapa waktu lalu,
sepak bola dan One Derection (OD) menjadi perbincangan, baik di dunia
nyata maupun maya. Hal tersebut terjadi karena OD melakukan OD di Indonesia. Sementara sepak bola tim
nasional senior Indonesia menjalani laga uji coba dengan Kamerun bersamaan
dengan konser OD. Selang dua hari, timnas Under 23 (U-23) melakukan
pertandingan kualifikasi piala Asia U-23 melawan Timor Leste, Brunei
Darussalam, dan yang terakhir Korea Selatan. Yang menjadi sorotan, konser OD
diselenggarakan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dimana lapangan tersebut
adalah venue olahraga.
Malang bagi timnas
senior. Selain kalah melawan Kamerun, timnas juga dipaksa menelan pil pahit
karena tidak dapat menggunakan stadion GBK, stadion kebanggaan Indonesia. Perjuangan
timnas terpaksa “dibuang” ke gelora Delta Sidoarjo. Hasil sebaliknya diraih
oleh Timnas U-23 dengan menang melawan Timur Leste dan Brunei. Namun, kritik
tetap saja mengalir terutama dari lawan karena buruknya rumput di lapangan
pasca konser OD.
Tidak menjadi masalah
apabila stadion GBK dijadikan tempat konser. Selama ini, GBK sudah tidak asing
lagi dengan kegiatan di luar olahraga. Misalnya kegiatan kampanye politik
menjelang Pemilu dan pemilihan presiden. Namun sangat disayangkan ketika konser
yang hanya hiburan semata mengalahkan kepentingan sepak bola. Sebuah kegiatan
yang membawa nama ibu pertiwi.
Pemerintah melalui
kementerian pemuda dan olahraga (Menpora), Induk Organisasi Sepak Bola
Nasional, Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), dan pengelola GBK seakan-akan
tutup telinga ketika terjadi benturan antara hajatan yang mengatasnamakan
negara dan hiburan semata. Bisa saja, pemerintah lebih memilih konser karena
lebih memikat dan bisa membawa pundi-pundi yang menggiurkan. Tak pelak, berbagai
kritik pedas di media bermunculan hingga hastag #OneDirectionJuncuk menjadi tranding topic.
Terkait dengan hal ini, negara
kita semakin menunjukkan kekalahan bertubi-tubi di mata asing. Setidaknya,
kekalahan tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, timnas Indonesia
kalah dalam segi bisnis. Jika diamati, pergerakan bisnis lebih menggoda konser OD
ketimbang timnas Indonesia.
Kedua, kekalahan pihak terkait seperti
yang disebut di atas. Kemenpora, PSSI dan pengelola GBK lebih diprioritaskan pergelaran
konser OD ketimbang menggelar pertandingan sepak bola. Padahal, sepak bola milik
bangsa Indonesia. Memang ada alasan bahwa OD sudah lebih dulu meminta izin.
Akan tetapi, apakah hal tersebut menjadi alasan apabila perjuangan atas nama
negara didahulukan?
Ketiga, lunturnya nasionalisme pemuda terhadap
perjuangan negeri ini. Antusiasme pemuda lebih menggelora ketika ada konser
seperti OD. Ini dapat kita amati bagaimana antusiasme kaula muda antre seharian
demi mendapatkan tiket konser. Sedangkan ketika timnas bertanding, hampir semua
tribun penonton sepi dari penonton.
Singkat cerita, kita
tidak bisa menyalahkan OD menggelar konser di tanah air. Namun kita amat
menyayangkan apabila pemerintah, induk sepak bola, pengelola GBK lebih
mementingkan konser daripada kepentingan bangsa. Hajat yang membawa nama negeri
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar