Rabu, 01 April 2015

Bola dan One Derection

Bola dan One Derection
Oleh Aminuddin
Penggemar Sepak Bola Tanah Air dan Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Beberapa waktu lalu, sepak bola dan One Derection (OD) menjadi perbincangan, baik di dunia nyata maupun maya. Hal tersebut terjadi karena OD melakukan  OD di Indonesia. Sementara sepak bola tim nasional senior Indonesia menjalani laga uji coba dengan Kamerun bersamaan dengan konser OD. Selang dua hari, timnas Under 23 (U-23) melakukan pertandingan kualifikasi piala Asia U-23 melawan Timor Leste, Brunei Darussalam, dan yang terakhir Korea Selatan. Yang menjadi sorotan, konser OD diselenggarakan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dimana lapangan tersebut adalah venue olahraga.
Malang bagi timnas senior. Selain kalah melawan Kamerun, timnas juga dipaksa menelan pil pahit karena tidak dapat menggunakan stadion GBK, stadion kebanggaan Indonesia. Perjuangan timnas terpaksa “dibuang” ke gelora Delta Sidoarjo. Hasil sebaliknya diraih oleh Timnas U-23 dengan menang melawan Timur Leste dan Brunei. Namun, kritik tetap saja mengalir terutama dari lawan karena buruknya rumput di lapangan pasca konser OD.
Tidak menjadi masalah apabila stadion GBK dijadikan tempat konser. Selama ini, GBK sudah tidak asing lagi dengan kegiatan di luar olahraga. Misalnya kegiatan kampanye politik menjelang Pemilu dan pemilihan presiden. Namun sangat disayangkan ketika konser yang hanya hiburan semata mengalahkan kepentingan sepak bola. Sebuah kegiatan yang membawa nama ibu pertiwi.
Pemerintah melalui kementerian pemuda dan olahraga (Menpora), Induk Organisasi Sepak Bola Nasional, Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), dan pengelola GBK seakan-akan tutup telinga ketika terjadi benturan antara hajatan yang mengatasnamakan negara dan hiburan semata. Bisa saja, pemerintah lebih memilih konser karena lebih memikat dan bisa membawa pundi-pundi yang menggiurkan. Tak pelak, berbagai kritik pedas di media bermunculan hingga hastag #OneDirectionJuncuk menjadi tranding topic.
Terkait dengan hal ini, negara kita semakin menunjukkan kekalahan bertubi-tubi di mata asing. Setidaknya, kekalahan tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, timnas Indonesia kalah dalam segi bisnis. Jika diamati, pergerakan bisnis lebih menggoda konser OD ketimbang timnas Indonesia.
Kedua, kekalahan pihak terkait seperti yang disebut di atas. Kemenpora, PSSI dan pengelola GBK lebih diprioritaskan pergelaran konser OD ketimbang menggelar pertandingan sepak bola. Padahal, sepak bola milik bangsa Indonesia. Memang ada alasan bahwa OD sudah lebih dulu meminta izin. Akan tetapi, apakah hal tersebut menjadi alasan apabila perjuangan atas nama negara didahulukan?
Ketiga, lunturnya nasionalisme pemuda terhadap perjuangan negeri ini. Antusiasme pemuda lebih menggelora ketika ada konser seperti OD. Ini dapat kita amati bagaimana antusiasme kaula muda antre seharian demi mendapatkan tiket konser. Sedangkan ketika timnas bertanding, hampir semua tribun penonton sepi dari penonton.
Singkat cerita, kita tidak bisa menyalahkan OD menggelar konser di tanah air. Namun kita amat menyayangkan apabila pemerintah, induk sepak bola, pengelola GBK lebih mementingkan konser daripada kepentingan bangsa. Hajat yang membawa nama negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar