Kongres PDIP dan Regenerasi Parpol
Oleh Aminuddin
Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tanggal 09 April kongres
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan dilaksanakan di Bali untuk
memilih ketua umum periode 2015-2020. Nampaknya, ketokohan Megawati Soekarno
Puteri masih belum tergoyahkan dalam kedudukannya sebagai ketua umum. Ditambah
lagi dengan desas desus bahwa Kongres tersebut bertujuan untuk mengukuhkan Mega
sebagai ketua umum hingga 2020. Itu mengonfirmasi bahwa sosok Megawati masih
menjadi titik sentral di internal partai.
Ada kabar bahwa Joko
Widodo layak menjadi ketua Umum menggantikan Mega. Hal tersebut hampir mustahil
terjadi karena Jokowi masih menjadi presiden. Di sisi lain, Jokowi juga tidak
memiliki garis biologis dengan Soekarno. Bisa jadi, kabar tersebut hanya
pemanis semata karena mayoritas pemilik suara sudah bulat untuk memilih Megawati
secara aklamasi.
Fenomena atas mengonfirmasi
bahwa megawati masih diperhitungkan di internal partai. Harapan regenerasi
parpol pun masih utopia. Wajah lama dan kaum tua masih menjadi penentu
bergeraknya parpol. Ibaratnya, parpol masih memiliki ketergantungan terhadap
pesohor maupun orang kuat. Sartori (1976) dalam Arya Budi (2013) mengungkapkan bahwa
cenderung menunjukkan orang kuat di dalam organisasi partai sebagai sebuah
entitas kelompok. Orang kuat lebih berpengaruh daripada parpol itu sendiri
sehingga terkesan bahwa figur individu masih di atas parpol. Disinilah gejala personalisasi
politik masih menjadi keniscayaan.
Ketokohan Megawati di
internal PDIP sudah tidak dapat terbantahkan lagi. Sejak ia didapuk pertama
kali menjadi ketua Umum sejak 1993 hingga sekarang, posisi Megawati belum bisa
tergoyahkan. Bagi PDIP, Mega merupakan representasi dari Soekarno yang notabene
biologis Soekarno. Saking kuatnya pengaruh Mega dan Soekarno, di setiap kongres
yang dilaksanakan PDIP, hampir tidak ada spanduk selain gambar Mega dan Soekarno.
Itu artinya, PDIP merupakan partai Biologis dari Soekarno yang sekarang
sahamnya dimiliki oleh Megawati.
PDIP adalah Megawati,
sedangkan Megawati belum tentu PDIP. Megawati merupakan sosok penting di dalam
parpol. Tidak heran jika suatu saat, kepemimpinan parpol hanya akan diisi oleh
orang yang memiliki silsilah politik atau berbasis keluarga. Parpol berbasis keluarga (dinasti parpol) memang
tidak lepas dari tradisi untuk membangun kekuasaan. Hal itu bertujuan untuk
mengekalkan kekuasaan agar tidak mudah lengser. Gaetano Mosca (1980) memaparkan bahwa setiap kelas
menunjukkan tendensi untuk membangun suatu tradisi turun-menurun di dalam
kenyataan, jika tidak bisa di dalam aturan hukum.
Fenomena parpol berbasis
keluarga tidak hanya terjadi di Indonesia yang notabene masih berkecimpung dalam
tradisi demokrasi. Negara-negara lain seperti Amerika, Pilipina, dan India pun
masih mengalami sengkarut partai keluarga. Misalnya di Amerika, sekitar tahun
90an sampai 200an, dinasti politik sangat kentara di silsilah politik
Kennedy, Bush, dan Clinton. Di
Filipina ada dinasti Marcos, Aquino, dan Arroyo, sementara di India ada dinasti
Gandhi dan Nehru, Pakistan ada dinasti Bhutto, dan sebagainya.
Parpol dinasti
berbasiskan politik yang mengedepankan politik kekerabatan. Persebaran
kekuasaan hanya didominasi oleh orang yang memiliki kekerabatan seperti anak,
isteri, paman, dan lainnya. Pos-pos strategis di internal parpol tidak
diberikan kepada orang luar yang tidak memiliki darah politik dinasti.
Partai keluarga dapat
ditelisik manakala patron keluarga masih menjadi kekuatan utama dalam
menentukan arah politik parpol tersebut. Setidaknya, partai berbasis keluarga
dapat ditelusuri dalam beberapa hal. Pertama, parpol lebih condong
mengedepankan orang-orang terdekat dalam mengisi posisi-posisi strategis. Posisi-posisi
strategis tersebut bisa dimaknai sebagai posisi yang lebih diteropong oleh
bidikan kamera. Tujuannya, keluarga tersebut agar naik secara popularitas.
Kedua, mekanisme dalam organisasi
kepartaian tidak dikelola sebagaimana politik on the track. Dengan kata lain, pengelolaan parpol atas
dasar kekerabatan. Disinilah muncul resistensi dari kader yang tidak
menghendaki politik kekeluargaan. Dalam hal ini, konflik parpol mudah terjadi.
Dan bahkan, polemik demikian menjadi embrio terbelahnya parpol.
Ketiga, Parpol yang berbasis keluarga
diibaratkan sebagai “rental politik parpol”. Tujuan rental politik parpol
tersebut untuk mencari keuntungan dari sisi ekonomi-politik. Regulasi rental
parpol tersebut meniscayakan kepada penguasa tunggal. Artinya, kader yang
menyewa (hanya kuat dari sisi finansial) harus mengikuti apa kata pemilik
rental. Dalam posisi inilah, kader hanya menjadi kacung politik atau boneka.
Regenerasi Parpol
Sulit menafikan bahwa
garis keturunan Soekarno yang ada dalam Megawati menjadi penting dalam
menggerakkan partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Megawati ibarat
lebih tinggi figurnya daripada partai itu sendiri sehingga ia dianggap sebagai sumber
dari berbagai gagasan partai. Ideologi partai tidak menjadi acuan dibanding
figur individu. Dalam hal ini, pandangan politik di internal sudah tidak
mengenal “apa” gagasannya. Namun “siapa” yang menjadi penguasanya.
Disinilah harapan untuk
menyaring generasi parpol masih menjadi kendala. Generasi parpol yang menjadi
salah satu sumber utama berlangsungnya parpol masih belum lahir. Oleh sebab
itu, mengutamakan regenerasi parpol menjadi sebuah keniscayaan bagi semua
parpol yang ada di Indonesia. Jika tidak, maka parpol hanya akan diisi oleh
muka-muka lama yang sudah tidak memiliki daya tarik terutama dalam pemilu
maupun pemilihan presiden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar