Polisi Parlemen
Oleh
Aminuddin
Peneliti
Politik di Bulaksumur Empat Yogyakarta
Wakil rakyat kita tidak henti-hentiya membuat kebijakan kontroversial.
Kali ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat mewacanakan polisi
parlemen. Polisi parlemen difungsikan untuk mengamankan wakil kita dari
berbagai ancaman dari luar termasuk teror, baik saat sidang maupun aktivitas
lainya.
Berdasarkan draf dokumen Desain dan
Konsep Usulan Parliamentary Police, polisi parlemen berkekuatan 1.194 personel.
Secara rinci, Polisi Parlemen ini akan dibekali
alat pendukung seperti pemadam api ringan sebanyak 60 buah, senjata api
berlaras pendek sebanyak 250 unit dan berlaras panjang sebanyak 100 unit.
Polisi parlemen juga akan diberikan fasilitas seperti rumah dinas. Diperkirakan,
akan Ada 130 rumah dinas untuk polisi
parlemen. Nantinya, Polisi parlemen akan dipimpin oleh perwira
berpangkat Brigjen.
Jika dibandingkan dengan pengaanan dalam (Pangdal) yang sekarang, personel
tersebut sangat banyak. Untuk saat ini, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
diperkuat 29 anggota Pamdal, DPR diperkuat 489 anggota pamdal, dan Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) oleh 50 anggota pamdal. Banyaknya wacana polisi
perlemen tersebut juga akan banyak menyedot anggaran negara.
Melihat apa yang diwacanakan oleh perlemen kita,
rasa-rasanya belum ada kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Mereka hanya sensitif
dengan kepentingan dan fasilitas pribadi. Sedakanan kepentingan rakayt malah
terabaikan. Selama kurang lebih 6 bulan duduk di singgasana parlemen. Belum ada
kebijakan signifikan yang dirasakan rakyat. Yang ada, mereka hanya
mempertunjukkan teatrikal politik dan saling menggergaji satu sama lain.
Misalnya, kisruh antar partai, tarik menarik kepentingan, dan yang lebih
menggelikkan wacana pengharum ruangan dan polisi parlemen.
Terkait dengan polisi perlemen, wacana tersebut
semakin mengofirmasi bahwa parlemen akan menjaduhi rakyat. Rakyat yang
seharusnya didekati dan diayomi, berpotensi terbentur oleh kokohnya tembok
parlemen bernama Polisi Parlemen. Padahal, gedung DPR adalah milik rakyat
dimana gedung tersebut dibangun oleh uang rakyat.
Jika diamati belakangan ini, parlemen tidak
terjadi kegaduhan yang mengancam keselamatan DPR. Yang ada, kekisruhan malah
dilakukan oleh wakil rayat sendiri. Lihat saja ketika terjadi pertiakaian Anggota Komisi VII dari Fraksi PPP Mustofa
Assegaf dan Wakil Ketua Komisi VII dari Partai Demokrat Mulyadi terlibat adu
jotos layaknya orang yang tidak berpendidikan dan beretika.
Ada juga kisruh perebutan kantor komisi hingga mencongkel pintu.
Terkait dengan kebijakan tersebu, kita patut curiga atas usulan DPR terkait
dengan wacana polisi parlemen. Jangan-jangan, polisi parlemen tersebut tidak
sekedar mengamankan DPR dari ancaman luar dalam melaksanakan tugas kenegaraan.
Namun sebagai alat untuk mengamankan kepentingan partai politik tertentu. Kita
tahu bahwa selama ini, konflik partai masif terjadi. Konflik tersebut sudah
menjurus ke arah yang lebih ektrim, yaitu kekerasan.
Apabila hal tersebut benar adaya, maka fasilitas seperti polisi parlemen
tidak layak untuk diberikan. Oleh sebab itu, DPR semestinya fokus kepada
kinerja saja dan mengembalikan citranya kepada rakyat. Bukankah selama ini
kinerja parlemen dianggap buruk oleh publik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar